Jakarta – Virus Corona atau SARS-CoV-2, penyebanb penyakit Covid-19, biasanya menimbulkan sejumlah gejala pada orang yang dijangkitinya. Beberapa gejala yang lumrah timbul pada orang yang terinfeksi termasuk demam tinggi, batuk, hingga mudah lelah.

Selain itu, ada juga satu gejala lainnya yang paling sering ditemukan, yaitu kehilangan penciuman atau anosmia.

Anosmia umumnya terjadi pada orang-orang yang mengalami flu biasa akibat hidung tersumbat, di mana terjadi pembengkakan di area tersebut. Tapi, pada penderita Covid-19, gejalanya akan jauh lebih parah.

Menurut┬áScience Focus, penyebab mengapa kehilangan penciuman bisa terjadi pada pasien Covid-19 adalah karena terdapat protein di permukaan beberapa sel manusia yang dapat dengan mudah “mengikat”┬áprotein luar dari virus corona.

“Ini adalah sel-sel yang ditemukan di jantung, paru-paru, usus, tenggorokan, dan hidung.” jelas media tersebut dalam artikel yang dipublikasikan pada Agustus.

“Protein, sejenis enzim yang disebut ‘angiotensin converting enzyme II’ (ACE-2), memiliki bentuk tertentu yang dirancang untuk tugasnya – mengambil hormon angiotensin, dan mengubahnya menjadi angiotensin II, yang digunakan di sekitar tubuh untuk hal-hal seperti mengatur tekanan darah. Meskipun bentuk ACE-2 sangat cocok dengan angiotensin, ia juga mengikat protein luar yang tajam dari virus corona.”

Tim ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins telah melakukan penelitian lanjutan untuk mengukur berapa banyak protein ACE-2 yang ditemukan pada setiap jenis sel. Penelitian dilakukan dengan melihat sampel jaringan dari hidung pasien, kata Science Focus.

Mereka menemukan bahwa tingkat protein pada epitel olfaktorius, jaringan di bagian belakang hidung yang digunakan untuk mendeteksi bau, ‘sangat tinggi’, antara 200 sampai 700 kali lebih tinggi daripada di area hidung lainnya.

Temuan itu juga diharapkan dapat menunjukkan jalan potensial untuk mengobati infeksi langsung melalui hidung.

“Sel-sel pendukung penciuman ini diperlukan untuk melindungi dan memelihara neuron halus di hidung yang mendeteksi bau dan memberi sinyal informasi itu ke otak,” kata penulis studi tersebut, Dr Andrew P Lane.

“Secara umum, ketika sel terinfeksi virus, mereka menjalani proses yang disebut pyroptosis – pada dasarnya menekan tombol penghancuran diri untuk menggagalkan virus. Jadi, kemungkinan besar, sel pendukung penciuman menghancurkan dirinya sendiri, yang pada gilirannya menyebabkan kematian neuron sensorik dan hilangnya indera penciuman.”

Studi lebih lanjut yang mengamati pemulihan pasien Covid-19 telah menemukan neuron ini kembali dari waktu ke waktu, meskipun efek jangka panjangnya masih belum diketahui.

“Beberapa pasien Covid-19 melaporkan bau yang menyimpang (parosmia) bertahan selama berbulan-bulan setelah indera penciuman mereka kembali,” kata Lane. “Gangguan bau jangka panjang dengan Covid-19 ini tidak biasa dan memerlukan studi lebih lanjut.

“Ada kemungkinan bahwa fungsi penciuman yang berubah ini mungkin permanen, tapi masih terlalu dini untuk diketahui. Kami optimis bahwa hal ini pada akhirnya akan hilang ketika otak ‘belajar kembali’ untuk menafsirkan sinyal dari lapisan penciuman yang beregenerasi.”

 

Editor : Aron
Sumber : cnbcindonesia