Sejumlah fakta terkait ban tanpa udara mulai dari harga, kapan rilis, tahan berapa lama, serta kelebihan dan kekurangan. (michelinmedia.com)

Ban tanpa udara dianggap menjadi salah satu masa depan industri otomotif. Kini beberapa produsen turut mengembangkan ban tanpa udara, dan beberapa sudah membocorkan harga, masa pakai hingga waktu rilis ke pasar.

Secara garis besar ban tanpa udara sama seperti ban konvensional. Dari bentuk seperti donat, berwarna hitam, terbuat dari karet. Namun bedanya ban tanpa udara tidak dirancang untuk menampung udara jadi memiliki bentuk dinding borongga.

Ban tanpa udara memiliki struktur yang terbilang unik pada bagian dinding. Bisa dikatakan fungsinya sebagai penyangga antara bagian tapak ban dengan pelek. Dari struktur tersebut bisa dipahami kerja ban tak akan menggunakan tekanan udara.

Keberadaan struktur tersebut juga sekaligus berfungsi sebagai peredam guncangan, ini akan membantu suspensi meredam daya kejut ketika menghantam lubang atau jalan tidak rata.

Berikut sejumlah fakta terkait harga, kapan rilis, kekuatan, hingga kelebihan dan kekurangan ban tanpa udara.

Kapan ban tanpa udara rilis?
Kini produsen yang berupaya mengembangkan produk itu ialah Michelin dan Bridgestone. Bahkan Michelin sudah menentukan target mulai memproduksi ban tanpa udara bernama Unique Puncture-proof Tire System (Uptis) mulai 2024.

Sementara General Motor dan Michelin berharap mereka bisa meluncurkan ban tanpa udara ini ke publik pada tahun 2025.

Harga ban tanpa udara?
Michelin mengatakan ban tanpa udara Uptis bakal dijual antara US$40 atau senilai Rp639 ribu(kurs Rp14.202) hingga US$65 atau senilai Rp923 ribu per ban.

Sementara untuk harga ban tanpa udara Bridgestone QuietTrack, disebut akan dilego lebih mahal, US$133 per ban atau sekitar Rp1,9 juta (kurs Rp14.217,75).

Harga itu disebut jauh lebih mahal dibandingkan harga ban biasa. Namun tentunya banyak keuntungan yang didapat bagi para pengemudi.

Dikembangkan sejak 2005
Dikutip New Atlas, teknologi ban tanpa udara besutan Michelin dikembangkan selama lebih dari 16 tahun lalu. Sejak pertama kali ditulisgizmag.com pada 2005, dengan cepat ban model ini menjadi cerita paling populer.

Tahan berapa lama?
Michelin mengatakan tidak ada cara untuk mengetahui berapa lama ban itu akan bertahan. Pengemudi harus memeriksa ban maksimal lima tahun. Ban tanpa udara disebut bertahan sekitar tiga kali lebih lama dari ban konvensional.

Michelin berharap tapak ban bisa bertahan dua hingga tiga kali lebih lama dari ban konvensional. Sebab, pengemudi bisa mengganti karet tapak di sekitar lingkar luar ban saja jika ban sudah aus. Hal ini berbeda dari ban konvensional yang mengharuskan seluruh bagian ban diganti saat tapak ban aus, seperti dikuti Clean Technica.

Sehingga, pengemudi disebut tidak perlu membawa ban serep selama perjalanan. Klaim lain dari pabrikan bila ban seperti ini juga ramah lingkungan sebab material yang digunakan dapat didaur ulang.

Keuntungan ban tanpa udara
Keuntungan menggunakan ban tanpa udara cukup jelas. Pengendara tidak akan pernah bisa dihentikan oleh kebocoran ban. Ban ini tidak akan mengalami masalah jika tertembus paku atau benda tajam lainnya sebab memang dirancang tanpa udara sehingga tak mungkin kempis.

Michelin mengatakan sekitar 200 juta ban setiap tahun berakhir di tempat pembuangan sampah lebih awal lantaran bocor ban. Ban tanpa udara diklaim memiliki masa pakai yang lama, sehingga tak menghasilkan banyak limbah, menurut laporan Motor Biscuit.

Rongga pada ban dapat diatur untuk memenuhi karakteristik yang diinginkan. Anda dapat menyetel kaku atau lenturnya ban secara individual di bawah gaya akselerasi, pengereman, menikung, dan penanganan benturan. Karakteristik ban terhadap benturan bahkan dapat disetel untuk kebutuhan suspensi di beberapa jenis kendaraan.

Kelemahan
Dikutip Auto Blog, ban tanpa udara didesain menyatu dengan pelek. Sehingga, bagian velg dan ban disebut menjadi sebuah kesatuan yang tak bisa diganti.

Meskipun ban tanpa udara menjadi terobosan teknologi otomotif, ada hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan. Masalah estetika menjadi pertimbangan yang menjadi risiko kemajuan teknologi ban tersebut.

Editor : ARON
Sumber : cnnindonesia