Bendera Mesir. Foto: Dok. Anadolu Agency

Masyarakat di Mesir mulai mengurangi pasokan makanan karena tingginya harga akibat inflasi. Hal ini dipicu oleh perang antara Rusia dan Ukraina yang belum juga berakhir.
Hanya ada beberapa makanan di kulkas Hanna Ayyad akhir-akhir ini. “Kita bisa tanpa makan daging, beli sebulan sekali, dan kita mungkin membeli ayam dua atau tiga kali sebulan, tidak seperti sebelumnya,” katanya dikutip dari CNN, Senin (11/7/2022).

Ayyad yang juga penjual buah jalanan di Kairo mengaku pendapatan hariannya berkurang akhir-akhir ini karena pelanggan hanya mampu membeli sebagian kecil dari biasanya. Jika biasanya dagangannya habis dalam satu hari, kini butuh waktu berhari-hari.

“Dulu ada yang beli 5 kg atau 10 kg buah, sekarang bisa beli paling banyak 1 kg atau 2 kg,” ujarnya.

Daya beli rumah tangga di Mesir dari semua tingkat pendapatan berkurang dengan cepat. Krisis ekonomi meningkatkan prospek kerusuhan di negara itu karena orang Mesir yang lebih miskin seperti Ayyad telah mengurangi pasokan makanan.

Tingkat inflasi Mesir mencapai 14,7% pada Juni 2022, naik dari sekitar 5% pada waktu yang sama tahun lalu. Konsumen mengatakan harga telah meroket melampaui angka itu sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari lalu.

“Dulu saya membeli merek Internasional (sereal) yang harganya mungkin sekitar US$ 4, sekarang telah naik menjadi US$ 13,” kata Haya Aref, arsitek berusia 23 tahun. Baginya, sayuran lokal menjadi pilihan yang terjangkau dan sehat.

Perang di Ukraina telah membawa ketidakpastian ke pasar gandum global. Mesir, yang bergantung pada Rusia dan Ukraina untuk 80% impor gandumnya, sekarang membayar US$ 435 per ton, dari sebelumnya US$ 270 tahun lalu.

Lembaga pemeringkat kredit Moody’s telah memperingatkan pada Mei lalu tentang risiko sosial dan politik karena menurunkan prospek ekonomi Mesir tahun ini dari stabil menjadi negatif.

Editor: HER
Sumber: detikfinancial