Ilustrasi LGBT. (Andhika-detikcom)

Cacar monyet yang biasanya hanya dilaporkan di Afrika Barat dan Tengah, kini meluas ke sejumlah negara dengan sekitar 140 kasus. Teranyar, Australia juga melaporkan pasien diduga mengidap cacar monyet sepulang dari Eropa, pria 40 tahun mengalami gejala ringan.

Fakta lain terungkap, kasus cacar monyet yang kini menyebar tidak selalu berkaitan dengan riwayat perjalanan. Identifikasi kasus cacar monyet juga dilaporkan di layanan kesehatan seksual. Sejumlah pasien mengeluhkan gejala selama aktivitas seks, ditemukan lesi pada alat kelamin mereka dan daerah di sekitarnya.

Banyak dari mereka yang terkena dampak adalah pria muda gay dan biseksual. “Kami berada dalam situasi yang sangat baru, itu adalah kejutan dan kekhawatiran,” jelas Prof Sir Peter Horby, Direktur Institut Ilmu Pandemi Universitas Oxford, kepada BBC.

Dr Hugh Adler, yang telah merawat pasien dengan cacar monyet, setuju pola infeksi kali ini berbeda dengan cacar monyet yang biasa ditemukan. “Ini bukan pola yang pernah kita lihat sebelumnya, ini kejutan.”

Jadi Apa yang Terjadi?

Monkeypox atau cacar monyet adalah virus DNA sehingga tidak bermutasi secepat COVID-19 atau flu. Analisis genetik yang sangat awal menunjukkan kasus saat ini sangat erat kaitannya dengan bentuk virus yang terlihat pada 2018 dan 2019.

Masih terlalu dini untuk memastikannya, tetapi hingga kini tidak ada bukti kasus yang menyebar di banyak negara adalah varian baru. Juga, masih belum jelas alasan mengapa pria gay dan biseksual terpengaruh secara tidak proporsional.

Apakah ada kemungkinan berkaitan dengan hubungan seksual, kebetulan, atau kesadaran diri komunitas gay lebih tinggi untuk memeriksa kesehatan seksual mereka, peneliti belum bisa mengungkap keterkaitannya. Meski ada kemungkinan cacar monyet semakin mudah menyebar, vaksinasi cacar sebenarnya bisa memberikan perlindungan.

“Ini mungkin menular lebih efektif daripada di era cacar, tetapi kami tidak melihat apa pun yang menunjukkan bahwa itu bisa merajalela,” kata Dr Adler, yang masih memperkirakan wabah ini akan mereda dengan sendirinya.

Laporan Kasus pada Pria Gay

Dikutip dari Euro News, WHO melihat kasus awal cacar monyet di luar Afrika sebagian besar terdeteksi melalui layanan kesehatan seksual dan di antara pria yang berhubungan seks dengan pria. Inggris misalnya, dari 20 kasus yang dikonfirmasi, banyak dari mereka merupakan pria yang mengidentifikasi diri sebagai gay, biseksual, atau pria yang berhubungan seks dengan pria.

Dikutip dari Channel News Asia, pihak berwenang Spanyol baru-baru ini juga menutup sauna yang terkenal dengan tempat populer komunitas gay. Otoritas kesehatan setempat mencatat 24 kasus baru cacar monyet per Jumat (20/5).

Jumlah kasus di Spanyol mencapai 30 orang.

“Departemen Kesehatan Masyarakat akan melakukan analisis yang lebih detail lagi… untuk mengendalikan penularan, memutus rantai penularan dan berusaha memitigasi penularan virus ini semaksimal mungkin,” jelas kepala kesehatan regional Enrique Ruiz Escudero.

Pakar kesehatan masyarakat dan ahli virologi menekankan fokus kasus cacar monyet pada pria gay sangat memprihatinkan. Hal ini mengingatkan dirinya pada laporan awal terkait HIV dan AIDS 40 tahun lalu.

“Cacar monyet bukanlah penyakit gay, dan juga bukan penyakit menular (kelompok) lainnya,” beber ahli virus dan dokter Dr Boghuma Kabisen Titanji, peneliti kesehatan masyarakat Keletso Makofane, dikutip dari Insider.

“Sangat disayangkan bahwa ini masih perlu dianalisis lebih lanjut, menyoroti betapa sedikit yang telah kita pelajari dari wabah sebelumnya,” sambung dia.

Hal senada juga diutarakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menekankan dalam pernyataan resminya Jumat (20/5) untuk tidak menstigmatisasi kelompok tertentu. Setiap orang ditegaskan WHO berisiko terkena cacar monyet.

“Ini termasuk petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan pasangan seksual,” kata WHO.

“Menstigmatisasi sekelompok orang karena suatu penyakit tidak pernah dapat diterima. Ini dapat menjadi penghalang untuk mengakhiri wabah karena dapat mencegah orang mencari perawatan, dan menyebabkan penyebaran yang tidak terdeteksi.”

Editor: HER

Sumber: detikhealth