Elon Musk mengaku mendukung Parta Republik dalam pemilu mendatang. (Foto: Arsip Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Bos Tesla dan SpaceX, Elon Musk merasa jika ia akan menjadi target politik. Hal itu disampaikan Musk dalam kicauanya di twitter,
“Serangan politik terhadap saya akan meningkat secara dramatis dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Musk lewat kicauanya, dikutip Kamis (19/5).

Musk mengatakan berencana untuk memilih Partai Republik dalam pemilu mendatang. Hal itu disampaikan Musk dua kali dalam satu minggu belakangan ini.

Kecenderungan politik Musk disebut tidak akan mengejutkan banyak orang. Terlebih Musk menjadi salah satu selebriti Twitter dengan banyak pengikut.

Di balik layar, Musk dan perusahaan terbesarnya, SpaceX dan Tesla, telah bekerja untuk mempengaruhi lanskap politik AS selama bertahun-tahun melalui lobi dan sumbangan politik.

SpaceX dan Tesla menghabiskan lebih dari US$2 juta untuk melobi pada 2021. Tapi Musk secara historis anti-serikat, menentang pajak miliarder dan kritikus vokal Presiden Joe Biden.

“Dulu saya memilih Demokrat, karena mereka (kebanyakan) adalah partai kebaikan. Tapi mereka telah menjadi partai perpecahan dan kebencian, jadi saya tidak bisa lagi mendukung mereka dan akan memilih Republik. Sekarang, lihat kampanye trik kotor mereka terhadap saya. terungkap,” ujarnya lewat Twitter.

Kicauan itu mengikuti pernyataan sebelumnya di All In Summit di Miami pada hari Senin, di mana Elon Musk menuduh Twitter memiliki bias sayap kiri yang kuat.

“Saya akan mengklasifikasikan diri saya sebagai moderat, bukan Republik atau Demokrat. Faktanya, saya telah memilih Demokrat secara historis. Sangat banyak. Saya mungkin tidak akan pernah memilih Republik. Sekarang, pemilihan ini? Saya akan melakukannya,” kata dia dikutip CNBC.

Musk telah menggolongkan akuisisi Twitter senilai US$44 miliar sebagai “pengambilalihan moderat” dari platform, bukan pengambilalihan sayap kanan.

Di media sosial, Musk diketahui kerap menyinggung anggota Demokrat, termasuk Biden, Sens. Elizabeth Warren dan Ron Wyden, dan Rep. Alexandria Ocasio-Cortez.

Sebaliknya, ia cenderung ramah dan nonkonfrontatif kepada pejabat terpilih sayap kanan, seperti GOP Rep. Lauren Boebert dan tokoh sayap kanan termasuk Steven Crowder, Dinesh D’Souza dan lain-lain.

Musk juga mengatakan akan mengaktifkan kembali Trump di Twitter, yang merupakan salah satu anggota dari partai Repbulik.

Twitter secara permanen menangguhkan akun mantan presiden dari platform pada Januari 2021, menyusul serangan oleh para pendukungnya di US Capitol. Perusahaan mengatakan mereka membuat keputusan setelah kerusuhan 6 Januari “karena risiko hasutan kekerasan lebih lanjut.”

Editor: ARON
Sumber: cnnindonesia