Ilustrasi kronologi temuan dua kasus transmisi lokal varian Omicron di Surabaya. (iStockphoto)

Mengalahkan varian Delta, Covid-19 varian baru Omicron kini merajalela di Amerika Serikat. Lebih dari 73 persen kasus baru infeksi Covid-19 di AS disebabkan oleh varian Omicron.
Dari Sabtu (18/12), Omicron menyumbang 73,2 persen kasus baru infeksi virus corona di AS, sementara Delta hanya 26,6 persen.

Angka ini berbeda jauh dengan yang terjadi pada pekan sebelumnya hingga Sabtu (11/12). Kala itu, Omicron diprediksi menjadi biang kerok atas 12,6 persen virus yang beredar, sementara Delta masih dominan di angka 87 persen, dikutip dari CNN.

Sementara itu, varian Omicron telah terdeteksi di setidaknya 47 negara bagian AS sampai pada Senin (20/12). Tak hanya itu, wilayah AS juga harus berhadapan dengan infeksi varian Delta yang sempat menjadi biang kerok kasus Covid-19 dunia.

Mengutip Associated Press, varian Delta menjadi biang kerok kasus infeksi Covid-19 di AS. Sampai pada akhir November, lebih dari 99,5 persen kasus Covid-19 di negara itu merupakan varian Delta.

Kepala Scripps Research Translational Institute, Dr. Eric Topo mengatakan, walaupun berbagai negara juga mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron, AS mengalami lonjakan infeksi yang ‘luar biasa di waktu yang cepat.’

Topol menyampaikan bahwa masih belum jelas bahaya Omicron dibandingkan varian lain.

“Ini adalah ketidakpastian yang sangat besar saat ini,” kata Topol.

“Kita harus merujuk pada banyak rawat inap dan banyak penyakit parah dari Omicron (untuk mengetahui tingkat bahaya tadi),” tambahnya.

Mengingat keberadaan Delta dan Omicron yang kini berdampingan, beberapa pakar kesehatan mendesak masyarakat AS untuk mendapatkan vaksinasi lengkap atau booster untuk melindungi diri dari infeksi virus.

Beberapa kota AS juga memutuskan memperketat perbatasan mereka. Beberapa di antaranya ialah New York dan Washington, DC.

Sebelumnya, Walikota Distrik Colombia, DC, Muriel Bowser mengumumkan mandat menggunakan masker di dalam ruangan. Kebijakan ini berlaku pada Selasa (21/12) hingga Senin (31/1).

Kebijakan diumumkan kala DC sempat mengalami rekor kenaikan kasus harian Covid-19 sejak awal pandemi di wilayah itu.

Di wilayah lain, Walikota New York Bill de Blasio mengatakan bahwa kotanya tengah mengetes lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya untuk mendeteksi penyebaran Covid-19.

Tak hanya itu, de Blasio menuturkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan pemerintah federal dan sektor swasta untuk mendapatkan lebih banyak alat uji Covid-19. Otoritas juga tengah mengupayakan lebih banyak alat tes Covid-19 yang bisa dilakukan di rumah untuk memberikan alternatif lain pada masyarakat.

Selain itu, De Blasio juga turut menyinggung perayaan Tahun Baru di Times Square. Ia mengatakan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan perayaan tersebut mengingat penyebaran Omicron, dan perubahan yang diputuskan akan disampaikan sebelum Natal.

Saat ini, kegiatan di luar ruangan pun masih dijadwalkan berjalan dan seluruh tamu harus mendapatkan vaksinasi lengkap.

Editor: ARON
Sumber: cnnindonesia