Foto: iStock

Harga minyak goreng hingga hari ini masih merangkak naik. Bahkan harga minyak goreng tertinggi sampai Rp2 3.350 per kilogram (kg) di Gorontalo.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan mengatakan terdapat beberapa faktor penyebab kenaikan harga minyak goreng salah satunya karena harga bahan baku, yaitu crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah yang naik secara internasional.

“Faktor utamanya adalah harga bahan baku minyak goreng yaitu CPO yang harga internasionalnya meningkat. Hal ini disebabkan gangguan pasokan minyak nabati dunia yang turun,” kata Oke, Kamis (4/11/2021).

Berdasarkan data Kemendag, harga minyak goreng curah naik 11,27% dibandingkan bulan lalu menjadi Rp 15.800 per liter. Kemudian harga minyak goreng kemasan sederhana naik 8,78% menjadi Rp 16.100 per liter, dan minyak goreng kemasan premium naik 6,71% menjadi Rp 17.500 per liter. Stok minyak goreng saat ini ada di angka 628.600 ton dengan ketahanan 1,49 bulan.

Oke menjelaskan, harga CPO dunia (CPO Dumai) memicu kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri. Setidaknya kenaikan harga CPO Dumai masih terus terjadi hingga 9,21% dan tembus di kisaran harga Rp 12.083 per kg.

Tindak lanjut yang disampaikan dalam bahan paparan Oke menyebutkan pemerintah berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (CPO) di tengah kenaikan harga minyak goreng.

“Pemerintah berencana akan menghentikan ekspor minyak sawit mentah (CPO) guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri (Arahan Presiden tanggal 13 Oktober 2021 di Lemhanas),” tulis laporan tersebut.

Saat ditanya perihal kabar terbaru mengenai rencana menyetop ekspor minyak sawit tersebut, Oke enggan memberikan penjelasan lebih jauh.

Bagaimana data ekspor CPO? Cek halaman berikutnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor CPO mencapai 8,58 juta ton dengan nilai US$ 8,34 miliar pada Januari-April 2021. Jumlah itu meningkat 7,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,24 juta ton dengan nilai US$ 5,56 miliar.

Sebagai informasi, rencana menghentikan ekspor CPO ini memang sudah ada sejak lama. Dari catatan detikcom, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah menegaskan akan menghentikan ekspor barang mentah salah satunya CPO. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam pembukaan Rakernas I sekaligus HUT ke-47 PDI-Perjuangan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Menurutnya CPO jangan terus-terusan diekspor karena bisa diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi, misalnya biodiesel 20% (B20) atau (B30). Menurut Jokowi jika dengan program B30, yang nanti dikembangkan menjadi B50 hingga B100, pemerintah bisa menekan impor minyak yang ujungnya bisa menghemat uang negara.

“Bayangkan dengan menjadikan CPO kita ke B30, kita menghemat kurang lebih Rp 110 triliun per tahun dan nantinya kalau sampai kepada B50 yang jelas lebih Rp 20 triliun. Kalau ini semua bisa masuk ke B100 saya tak bisa bayangkan bahwa kita sudah tidak impor minyak lagi, semua yang kita pakai adalah biodiesel,” tutur Jokowi.

Editor : ARON
Sumber : detikfinance