Ilustrasi Wisman di bandara Foto: Shutter Stock

Setelah sempat melarang penumpang pesawat dari Indonesia, Hong Kong mengambil kebijakan melarang Philippine Airlines dari Manila mendarat di negaranya selama 2 minggu setelah munculnya infeksi baru di Hong Kong.

Diberitakan Bangkok Post, Rabu (1/9/2021), larangan ini berlaku dari hari Minggu lalu sampai 11 September nanti, pesawat Philippine Airlines dari Manila akan dilarang mendarat di Hong Kong. Hal ini diberlakukan setelah tiga dari tujuh kasus virus corona impor yang dikonfirmasi di Hong Kong pada hari Minggu ditemukan berasal dari Manila melalui penerbangan maskapai PR300.

Mike Cheung Chung-wai, presiden Overseas Employment Centre, mengatakan dia terkejut mengetahui berita mendadak tentang penangguhan penerbangan.

“Saya baru mendengar tentang ini, tetapi kami akan terpengaruh. Ini hanya akan berdampak besar, tidak hanya untuk klien yang berniat membawa asisten rumah tangga, tetapi juga klien masa depan yang terbuka untuk mempekerjakan asisten rumah tangga di luar negeri sekarang akan berpikir dua kali,” katanya.

Philippine Airlines adalah salah satu dari segelintir maskapai yang mengangkut pekerja rumah tangga antara Manila dan Hong Kong. Dan larangan tak terduga ini datang pada waktu yang sangat tidak tepat.

Ribuan calon pembantu di Filipina dan Indonesia dengan pekerjaan di Hong Kong terjebak dalam ketidakpastian selama berbulan-bulan karena keengganan otoritas Hong Kong untuk menerima catatan vaksinasi Covid-19 dari negara asal mereka.

Namun, dengan peringatan perwakilan majikan lokal tentang kekurangan tenaga kerja yang serius, pemerintah Hong Kong akhirnya membuat kesepakatan dengan dua negara berisiko tinggi untuk mengizinkan pekerja yang divaksinasi di sana untuk mulai terbang ke kota pada hari Senin.

Majikan berharap ribuan pekerja rumah tangga asing akan memanfaatkan pengaturan itu dalam beberapa bulan mendatang. Tetapi prosesnya yang sudah terhambat oleh terbatasnya jumlah kamar hotel karantina kemungkinan akan diperumit sejak awal oleh larangan Philippine Airlines.

Beberapa serikat pekerja, mencatat masih ada dua pilihan lain yang tersedia yaitu Cathay Pacific Airways dan Cebu Pacific Air. Dan mereka optimis bahwa pihak yang terkena dampak masih dapat mengubah rencana mereka, meskipun sedikit merepotkan.

Betty Yung Ma Shan-yee, ketua Asosiasi Pengusaha Pembantu Rumah Tangga Hong Kong, mengatakan dia belum menerima keluhan dari anggota mengenai larangan terbang. “Pengusaha harus tetap bisa berganti maskapai,” tambahnya.

Hal sejalan pun diungkapkan Thomas Chan Tung-fung, ketua dari Hong Kong Union of Employment Agencies untuk solusi dari larangan ini. Pengusaha yang terkena dampak mungkin perlu membeli tiket lain terlebih dahulu, kemudian menunggu berbulan-bulan untuk pengembalian dana dari Philippine Airlines.

“Dampaknya tidak begitu serius karena masih ada dua maskapai lain yang beroperasi, tetapi cukup memalukan bagi pengusaha untuk memesan ulang penerbangan dari Philippine Airlines ke maskapai lain, waktunya cukup ketat untuk mereka,” katanya.

Editor: NUL

Sumber: detiknews