Memperlihat bendera Bintang Bulan di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, bertepatan Milad GAM, Jumat (4/12). Foto: Yudiansyah/acehkini
Bendera Bintang Bulan berkibar di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh, Jumat (4/12) pagi. Bendera Gerakan Aceh Merdeka itu dinaikkan oleh seratusan massa yang mengaku datang dari berbagai daerah ke pusat ibu kota Aceh untuk memperingati milad ke-44 GAM.
Informasi yang diperoleh acehkini, massa mulai berkumpul di halaman masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu sekitar pukul 09.00 WIB. Awalnya mereka melakukan zikir dan doa bersama sambil duduk di bawah payung elektrik.
Setengah jam berselang, massa berdiri sambil menenteng bendera Bintang Bulan. Mereka mengikat bendera berlatar merah itu di ujung tiang dari bambu lalu mengibarkannya. Aksi ini berusaha dicegah oleh aparat polisi dan militer yang berada di lokasi, sehingga sempat terjadi adu mulut.
Bendera Bintang Bulan Berkibar di Masjid Raya Baiturrahman saat Milad GAM
Bendera Bintang Bulan berkibar di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (4/12) bertepatan Milad ke-44 GAM. Foto: Yudiansyah/acehkini
Selain di ujung tiang bambu, massa juga membentangkan bendera Bintang Bulan dengan kedua tangan. Mereka juga tampak berfoto-foto sambil memegang bendera dengan latar belakang masjid.
Beberapa saat, aparat polisi dan militer membujuk massa agar menurunkan bendera. Langkah ini kemudian dituruti massa. Sekitar pukul 10.30 WIB, massa membubarkan diri. Sementara itu, hingga berita ini diturunkan puluhan militer bersenjata lengkap tampak berjaga-jaga di halaman masjid.
Nurzahri mantan anggota DPRA yang juga ketua pembentukan Qanun Bendera Aceh, menyebutkan bendera Aceh merupakan bendera yang sah menurut ketentuan hukum, jadi tidak ada satu institusi pun yang bisa menurunkan bendera ini secara aturan.
“Hari ini bangsa Aceh kembali mengibarkan bendera Bintang Bulan ini, yang di mana bendera ini merupakan lambang perjuangan Aceh dan bendera bangsa Aceh. Bendera ini secara hukum sudah sah, di Aceh ada Qanun Aceh, di nasional ada UUPA dan di internasional ada MoU Helsinki,” ujarnya.
Seperti diketahui, Gerakan Aceh Merdeka dideklarasikan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada 4 Desember 1976 di Gunung Tjokkan, Tiro, Pidie. Gerakan ini mengangkat senjata untuk memisahkan Aceh dari Indonesia. Hampir 29 tahun berperang, GAM kemudian menyepakati perdamaian dengan Republik Indonesia di Helsinki, 15 Agustus 2005. Kelak, perjanjian damai itu dikenal dengan MoU Helsinki.
Editor : Aron
Sumber : kumparan