Singapore Airlines mencatat rugi bersih S$2,34 miliar atau sekitar Rp24 triliun pada kuartal III 2020 karena pandemi virus corona. Ilustrasi. (AFP PHOTO / REMY GABALDA).

Maskapai Singapore Airlines babak belur dihantam pandemi virus corona pada kuartal III 2020. Maskapai yang telah kehilangan ribuan pekerjaan dan menghentikan sebagian besar armadanya ini mencatat rugi bersih pada periode Juli-September mencapai S$2,34 miliar atau US$1,7 miliar. Angka itu setara dengan Rp24,31 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS).

Kinerja tersebut terjun bebas dari periode sama tahun sebelumnya yang masih mencetak laba S$94,5 juta.

Dilansir dari AFP, Jumat (6/11), pendapatan perusahaan pada kuartal III lalu anjlok 81,4 persen menjadi S$783,8 juta.

“Pemulihan dari pandemi covid-19 kemungkinan akan tetap tidak merata, mengingat gelombang baru infeksi di seluruh dunia dan kekhawatiran tentang kasus impor,” kata manajemen Singapore Airlines dalam keterangannya.

Perusahaan telah menyelesaikan pembicaraan dengan Airbus mengenai jadwal revisi pengiriman pesanan pesawat. Sedangkan, negosiasi serupa dengan Boeing disebut sedang dalam “tahap lanjutan”.

Bulan lalu perusahaan mengumumkan efisiensi terhadap sekitar 4.300 pekerjaan atau 20 persen dari angkatan kerjanya.

Dengan industri penerbangan terjerembab dalam krisis parah akibat pandemi, maskapai penerbangan telah beralih ke cara alternatif untuk mengumpulkan uang dari menawarkan flights to nowhere, konsep penerbangan yang lepas landas dan kembali ke bandara yang sama, hingga tur pesawat.

Maskapai penerbangan berbendera Singapura itu membatalkan rencana sebelumnya untuk penerbangan tanpa tujuan menyusul protes atas potensi dampak lingkungan.

Tak habis ide, perusahaan paket rekreasi yang menawarkan penumpang kesempatan untuk makan di atas dua pesawat superjumbo A380 yang diparkir dan juga menawarkan pengiriman makanan pesawat ke rumah.

Badan industri Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan maskapai penerbangan yang beroperasi di kawasan Asia-Pasifik akan kehilangan US$27,8 miliar secara kumulatif tahun ini.

IATA memperkirakan pada bulan Juli bahwa lalu lintas udara global tidak mungkin kembali ke tingkat sebelum virus korona hingga setidaknya 2024 atau setahun lebih lambat dari yang diproyeksikan sebelumnya.

 

Editor : Parna

Sumber : cnnindonesia