Ilustrasi pengendara moge. (istockphotos/shaunl)

Kesan arogan pada pengendara sepeda motor besar alias moge diakui benar oleh komunitas pemilik, walau begitu budaya negatif seperti itu dikatakan sudah meluntur seiring banyak edukasi.

Cap arogan pengendara moge kembali menguak usai cekcok berujung pengeroyokan anggota TNI yang terjadi saat Harley Owners Group (HOG) sedang touring di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Perwakilan komunitas moge besar di dalam negeri, Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI), Ipung Purnomo, tidak memungkiri pengguna Harley-Davidson atau moge erat dengan tindakan agresif. Namun kata dia hal tersebut perlahan mulai ditinggalkan.

“Nah kalau yang sekarang ini mungkin anak muda yang baru punya motor dan baru naik motor lalu ingin nunjukin jati dirinya,” kata Ipung melalui telepon, Selasa (3/11).

Ipung yang juga berasal dari Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) dan pengurus di Ikatan Motor Indonesia (IMI) menyampaikan saat ini pengguna moge lebih mengedepankan simpati masyarakat dalam setiap kegiatan.

“Jadi yang kami terapkan bahwa jalan ini milik semua. Jadi kalau ada lampu merah berhenti, saling bertegur sapa dan lainnya. Jadi simpati yang kami inginkan, bukan antipati,” kata dia.

Moge Susah Berhenti

Ada berbagai alasan mengapa pengguna moge cenderung arogan, sebagian berasal dari produk yang digunakan lantas lainnya faktor seperti citra, mental, dan situasional. Pemilik moge juga biasanya dari kalangan kelas atas yang terbiasa eksklusif dan bisa berkaitan dengan minta prioritas di jalanan.

Salah satu hal yang mungkin membuat pengguna moge terlihat arogan yakni terlihat malas berhenti.

Ipung yang mengaku sudah hobi mengendarai Harley-Davidson sejak medio 90an mengatakan pengendara moge tidak bisa sembarangan berhenti karena bobot motor yang berat. Dia bilang butuh tenaga ekstra untuk bikin moge stabil saat berhenti.

“Jadi saya sudah lama gunakan motor itu, jadi kalau berhenti terus turun kaki ya agak lumayan juga buat menstabilkan motor. Butuh tenaga ekstra. Memang itu motor berat sekali,” katanya.

Menurut Ipung bobot motor Harley-Davidson jauh lebih berat ketimbang moge dari merek lain seperti BMW, Kawasaki, Honda, hingga Yamaha.

“Material kan besi semua, beda seperti motor gede lain seperti BMW dan lainnya yang sudah banyak gunakan material plastik,” kata Ipung.

Selain itu Ipung menjelaskan pengendara Harley-Davidson tak ingin sering-sering berhenti karena panas mesin dikatakan menyiksa.

“Jadi kami bukan sengaja bahwa kami memang orang yang butuh prioritas khusus, tidak. Memang kami perlu pengertian pemakai jalan bahwa ini motor berat banget. Panas lagi. Panasnya dari atas matahari sama dari mesin. Jadi saling keterkaitan,” ucap Ipung.

 

 

Editor : Parna

Sumber : cnnindonesia