Ilustrasi COVID-19. Foto: Dado Ruvic/Reuters
Hafiz (21) tidak pernah menduga virus corona akan menginfeksi semua keluarganya yang tinggal di daerah Baleendah, Bandung, Jabar.
Sejak 13 Januari, sang ayah mengeluh tidak enak badan dan akhirnya menular ke lima anggota keluarga yang lain, termasuk Hafiz.
Gejala sesak napas yang dirasakan sang ayah akhirnya mengharuskannya melakukan swab tes dengan biaya yang juga tidak sedikit.
Hingga hasil swab sang ayah keluar pada 20 Januari kemarin dan dinyatakan positif corona. Menyusul ke empat anggota keluarga lain termasuk ibu dan saudara kandungnya yang masih balita juga positif corona.
“Di tanggal 20 keluar hasilnya positif (ayah), lainnya swab keluar hari Selasa, saya negatif yang lain positif, termasuk adek saya yang 4 tahun,” tutur Hafiz kepada kumparan.
Hafiz juga menceritakan, keluarganya selalu terbuka dengan pengurus RT terkait kondisi kesehatan mereka, baik saat ayahnya masih menjadi suspect corona hingga kini satu keluarga harus isolasi mandiri di rumah.
Namun di luar dugaannya, keluarga Hafiz justru mendapat perlakuan yang berbeda dan merasa dikucilkan. Ia pun membuat cuitan curhatan yang dia dan keluarga rasakan melalui akun Twitternya pada 24 Januari 2020.
“Kami sekeluarga cukup kaget dengan reaksi sekitar. Kami merasa dikucilkan oleh lingkungan. Tidak ada support moril sedikitpun. Support makanan dari sekitar juga tidak ada,” imbuhnya.
Awalnya, keluarga Hafiz memanfaatkan layanan pesan antar makan secara online. Namun, biaya makanan yang dipesan secara online jauh lebih besar dan memberatkan keuangan keluarga.
“Buat makan gimana, sistem selama isolasi mandiri seperti apa, meraba-raba karena kita nggak tahu, kita andelin Gofood, beli obat juga online, itu kita agak berat, karena kan buat pesen di Gojek harganya jauh lebih besar,” ujarnya.
Sempat berusaha meminta bantuan tetangga dengan menitipkan uang dan membuatkan makanan, namun hal itu justru menjadi buah bibir dan mendapat teguran dari RT.
Tetangga mengaku mendapat telepon dari pengurus RT agar tidak mengirimkan makanan ke rumah Hafiz karena statusnya sebagai penderita corona.
“Tiba-tiba rumah sebelah yang kita bayar (untuk masak) nelfon, gimana ya nggak bisa ngirim makanan karena ditegur sama RT-nya, kita juga ngga tau pasti percakapannya gimana tapi yang pasti ditegur,” tuturnya.
Cuitan Hafiz di Twitter pun mendapat respons dan simpati dari ribuan warganet. Bahkan tidak sedikit yang kemudian bergerak untuk mengirimkannya bahan makanan dan kebutuhan pokok.
Ia juga mengaku setelah cuitannya viral di media sosial, kelakuan warga dan pihak RT menjadi lebih baik kepada keluarganya.
“Sekarang sudah ngga kaya dulu setelah twitnya viral. Terus banyak yang kasih kiriman juga, ada yang makanan, alat kebutuhan sehari hari kaya sabun, tissue. Banyak yang ngasih info sama doa juga,” tutupnya.

Editor : Aron
Sumber : kumparan