Suasana salah satu mall di Bekasi.

Managing Partner Inventures Indonesia Yuswohady memprediksi usaha pusat perbelanjaan atau mal masih akan sulit bangkit meski vaksin covid-19 mulai diproduksi dan didistribusikan di Indonesia tahun depan.

Hal tersebut tercermin dari riset yang dilakukan Inventures terhadap 629 responden yang tersebar di seluruh Indonesia pada periode Agustus-September 2020. Yuswohady menuturkan hasil menunjukkan mayoritas responden, yakni sebesar 61,6 persen, masih mengaku khawatir pergi ke mal.

Dengan tingginya kekhawatiran konsumen belanja ke mal tersebut, menurut Yuswohady, maka pekerjaan utama yang perlu dilakukan para pengelola mal sampai beberapa bulan ke depan adalah membangun customer confidence terkait cleanliness, healthiness, safety, dan environment (CHSE).

“Kemampuan dalam melakukan CHSE branding ini akan menjadi penentu bangkitnya bisnis mal pada 2021,” ujarnya dalam Press Conference Publikasi Pra-rilis Riset Consumer Megashift post Covid-19, Selasa (27/10),

Yuswohady juga menyarankan para tenant di mal terutama restoran terus mengoptimalkan layanan digital. Pasalnya, aplikasi digital di era setelah vaksin diproduksi akan kian diminati.

“Hal ini tentu merubah consumer journey ketika ingin dine-in di resto. Tidak ada lagi waiting list dan antrean mengular karena konsumen menuntut restoran untuk go digital sehingga consumer journey menjadi lebih efektif dan efisien,” tuturnya.

Hal ini juga terlihat dari hasil riset yang dilakukan oleh Inventures terhadap 419 responden yang menunjukkan konsumen Indonesia akan semakin massif mengadopsi perangkat digital dalam menggunakan jasa restoran.

Sebagian besar responden yaitu sebesar 66,7 persen mengaku akan melakukan reservasi secara digital. Sementara 52,5 persen responden memilih menu dengan secara digital.

“Untuk sukses di lanskap bisnis resto pasca pandemi, tidak ada pilihan lain bagi para pelaku resto untuk go digital,” tandas Yuswohady.

 

 

Editor : Parna

Sumber : cnnindonesia