Pojok BatamMars Yaa Lal Wathan bergema di antara lautan manusia di Gelora Delta, Sidoarjo, kemarin. Lagu yang sering dinyanyikan di pesantren itu dikumandangkan oleh ratusan ribu peserta Istighotsah Kubro yang diadakan PW NU Jatim.

Istighotsah yang dihelat untuk merayakan Hari Santri Nasional itu diikuti perwakilan 42 PC NU se-Jatim, kader-simpatisan badan otonom (banom) NU, serta para santri dari berbagai daerah. Mereka memenuhi tribun, lapangan, hingga area lain di kompleks Gelora Delta.

Para ulama, tokoh, serta sejumlah pejabat juga hadir dalam acara tersebut. Dari PW NU Jatim, ada Rais Syuriah KH Anwar Mansyur dan Ketua Tanfidziyah KH Marzuki Mustamar. Juga, jajaran syuriah lainnya. Antara lain, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Kholil Asad, KH Nurul Huda Jazuli, KH Abdul Matib, KH Ubaidillah Faqih, dan KH Abdullah Kafabihi. Dari PB NU, hadir mantan rais am yang kini menjadi mustasyar, KH Ma’ruf Amin.

Sejumlah pejabat dan tokoh negara juga hadir. Ada wakil ketua MPR yang juga Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, perwakilan Forpimda Jatim, serta sejumlah kepala daerah. Kegiatan itu juga diikuti ilmuwan sekaligus aktivis perdamaian dari Palestina Mohammed Dajani.

Acara dibuka dengan salawatan yang dipimpin secara bergiliran oleh para kiai syuriah PW NU. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh para ulama sepuh. Mohammed Dajani juga diminta ikut memimpin doa.

Seperti rencana awal, jamaah yang hadir hanya membawa dua atribut kebesaran. Yakni, bendera-atribut NU dan bendera-atribut Merah Putih.

Ketua PW NU Jatim KH Marzuki Mustamar mengajak seluruh jamaah berdoa. “Supaya orang-orang yang zalim kepada Indonesia, aswaja, Palestina, Syria, Afghanistan, mugo-mugo tukaran sakkarepe dewe (bertengkar sendiri, Red),” katanya. Dia menuturkan, karena aswaja, seluruh kegiatan keagamaan di Indonesia aman meski melibatkan massa. “Tak ada acara haul yang dihadiri 200 ribu jamaah yang tidak aman di Indonesia,” katanya.

Hal itu, menurut Marzuki, tak mungkin terjadi di negara-negara rawan konflik seperti Syria dan Iraq. Selain itu, Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak. “Karena itu, kalau ada yang melawan aswaja, maka melawan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, Red). Cinta Islam berarti cinta Indonesia,” tegasnya.

Pengasuh Ponpes Sabilurrosyad, Malang, tersebut juga menyinggung pro-kontra bendera/atribut keagamaan yang terjadi akhir-akhir ini. “Orang beriman atau tidak bergantung hatinya,” katanya.

Karena itu, meski setiap umat memiliki bendera-bendera dan atribut yang berbeda, hal itu bukan alat ukur. “Meski benderanya Bonek, LA Mania, Lobster, ataupun Aremania, yang penting hatinya bertauhid,” katanya.

Marzuki juga mengajak jamaah membaca ikrar santri secara bersama-sama. Yang ditunjuk untuk memimpin pembacaan ikrar adalah Muhaimin Iskandar. Hari itu dia didaulat sebagai panglima santri. Salah satu poin ikrar adalah menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Sementara itu, KH Ma’ruf Amin mengajak muslim menjadikan Hari Santri Nasional sebagai inspirasi. “Untuk menyiapkan diri dalam menjaga negara, agama, dan aswaja,” ujarnya.

Mantan rais am PB NU itu juga menyinggung tantangan santri milenial. “Tak hanya bisa membaca huruf Alquran, kitab, santri harus bisa membaca huruf Allah dalam tatanan kehidupan. Baik itu ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya,” tutur dia.

Ma’ruf mengatakan hadir sebagai mustasyar PB NU. “Apa pun namanya, di mana pun saya berada, saya tetap kader NU,” ucap dia.

Selain itu, tak jauh dari arena Istighotsah Kubro, juga dilangsungkan kirab 10 ribu santri di pendapa alun-alun. Kegiatan tersebut dibuka Presiden Joko Widodo.