Timnas Spanyol akan memperebutkan tiket lolos ke 16 Besar lebih dulu dalam laga melawan Italia. (REUTERS/Lisi Niesner)

Pelatih timnas Spanyol Luis de la Fuente mengatakan anak-anak asuhnya siap ‘bermain lumpur’ alias kotor-kotoran saat menghadapi Italia di matchday 2 Grup B Euro 2024 nanti malam.

Spanyol dan Italia akan berhadapan di Gelsenkirchen, Jerman untuk memperebutkan tiket lolos lebih dulu ke babak 16 besar. Dua tim itu sama-sama sudah memetik tiga angka usai menang pada matchday 1, dan akan lolos duluan bisa berhasil menang atas lawan masing-masing.

“Kami siap untuk main lumpur, menggali lebih dalam di tambang, dan seharian di kantor. [Kami] siap untuk segalanya,” kata De la Fuente dalam konferensi pers jelang laga, Rabu (19/6) seperti dikutip dari Reuters.

“Kami tahu jenis permainan sepak bola yang mereka mainkan, dan seberapa kompetitif mereka. Jadi, kami tidak akan terkejut,” imbuh pria yang mengaku kini Spanyol bisa bermain dengan gaya apapun, tak melulu tiki-taka itu.

Setelah membantai Kroasia 3-0 di matchday 1, Spanyol kini memuncaki grup B. Dia disusul Italia dengan poin sama, namun kalah jumlah selisih gol usai menang 2-1 atas Albania di matchday 1.

Pertandingan Spanyol dan Italia nanti malam adalah pertemuan ke delapan dua negara di laga kompetitif sejak 1960 silam.

“Kami [Spanyol dan Italia] sedikit banyak rupanya serupa, mereka juga sebuah tim yang saat ini masih berkembang dengan banyak pemain muda dan pelatih baru,” kata De la Fuente yang baru menukangi Spanyol sejak 8 Desember 2022.

“Kalau saya melihat mereka [Italia], saya seperti sedang bercermin,” imbuhnya.

Sementara itu, gelandang Spanyol, Fabian Ruiz menilai Italia di bawah asuhan Luciano Spaletti serupa Spanyol yang digdaya dengan pendekatan penguasaan bola selama satu dekade ini.

Ruiz pernah bermain di bawah Spaletti saat keduanya sama-sama di Napoli. Dan, kata Ruiz, Spaletti adalah pelatih yang menugaskan penguasaan bola serta menekan di awal.

“Kami tahu Italia itu sebuah tim yang agresif dan intens. Spaletti telah memberi mereka sentuhan berkualitas, karena dia suka tim yang menghargai penguasaan bola,” ujar Ruiz.

“Spaletti suka timnya untuk menguasai kontrol bola dan menekan lebih awal, untuk mengambil bola jauh dari lawan. Italia yang dia inginkan adalah yang agresif,” imbuh pencetak gol pada matchday 1 itu.

Spanyol di bawah De la Fuente dinilai tak lagi ‘mendewakan’ tiki-taka dalam permainan timnya. Hal itu terlihat pada matchday 1 kala membantai Kroasia.  Namun cara kemenangan La Furia Roja dianggap berbeda karena kalah dalam urusan penguasaan bola dan jumlah operan.

Menanggapi situasi ini, pelatih timnas Spanyol Luis de la Fuente menyebut timnya bisa bermain dengan cara apapun di era kepelatihannya. Menurutnya, tim yang ia pegang punya kapasitas untuk lebih dari sekadar menguasai bola.

Tapi, dia meyakinkan pendekatan tiki-taka yang membawa Spanyol dua kali Juara Piala Eropa (2008 dan 2012) dan juara Piala Dunia 2010 itu masih ada di dalam darah anak-anak La Furia Roja untuk dikeluarkan.

Editor: PARNA
Sumber: cnnindonesia.com