Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

Seorang siswi SMK Kesehatan di Cihanjuang, Cimahi Utara, berinisial N, meninggal dunia pada 30 Mei 2024.

N diduga mengalami depresi berat akibat perundungan (bullying) yang dilakukan oleh kawan sekolahnya selama tiga tahun, sejak kelas 10 hingga akhir kelas 12.

Ibu korban, Siti Aminah (42 tahun), mengatakan putrinya mengalami bentuk perundungan yang bermacam-macam.
“Seperti kata-kata kasar yang ditujukan pada putri saya,” kata Siti saat ditemui di kediamannya, Senin (10/6).
“Waktu kelas 1 pernah disuruh gendong dari toilet ke kelasnya,” sambung dia.

Sang Putri Tidak Mau Memperkarakan

Aminah melanjutkan, dirinya dan keluarga semula tidak tahu bahwa sang putri mengalami perlakuan buruk dari temannya di sekolah. Dia dan suaminya, Dadang Komarudin (46), mengetahui itu dari teman-teman korban.

Sayangnya, saat hendak pertama kali memperkarakan masalah itu ke sekolah, Aminah dicegah oleh putri sulungnya itu. Dengan alasan bahwa sang anak tak ingin memperkeruh keadaan.

“Neng di sini untuk cari ilmu, bukan untuk cari musuh,” kenang Aminah, sambil menirukan sanggahan yang diucapkan anaknya.

Sejak saat itu, Aminah pun mengira bahwa masalah selesai sampai di situ. Tapi ternyata, Aminah kembali menerima aduan dari sahabat N di sekolah bahwa putrinya masih menerima perundungan.

Karena itulah, saat N di jenjang kelas 12, Aminah pun akhirnya mengambil tindakan.
Lapor ke Sekolah

Karena mendapat laporan bahwa N masih mengalami perundungan di sekolah, Aminah akhirnya mengambil tindakan. Langkah tersebut terutama diambil sebab kondisi psikis putri sulungnya itu kian memburuk.

Aminah mengirimkan video keadaan buruk putrinya itu ke pihak sekolah. Sayangnya pihak sekolah tak mencurahkan atensi yang cukup untuk aduan tersebut.

“Padahal saya sudah kirim videonya (kondisi N) ke wali kelas, ke yang lainnya juga. Tapi kenapa tindakannya lambat?” ujar Aminah tentang respon yang diberikan sekolah.

Rumah Terduga Pelaku Sudah Didatangi

Selain itu, Aminah juga mengaku dirinya sempat mendatangi rumah perundung putrinya, bernama Annisa. Seperti kepada sekolah, dia juga memperlihatkan video yang berisi kondisi N pada keluarga Annisa.

Adapun soal keluarga pelaku, Aminah bilang, “Saya sudah memperlihatkan videonya waktu saya ke rumahnya (pelaku). Tapi kok tidak ada (terlihat) rasa sedih, rasa iba, atau kasihan. Malah terus saja membela anaknya.”

N Kejang-kejang, Gundah, Marah Tak Terluapkan

Pada 13 Mei 2024, N dibawa ke klinik dan dirawat selama seminggu karena kondisi psikis N yang kian memburuk.
N sudah sering mengalami kejang-kejang seraya tangannya kuat-kuat terkepal menyerupai cakar, disertai gundah sembari menyebut-nyebut nama pelaku.

Selain itu, Ayah korban, Dadang, juga menyebut bila putri sulung kesayangannya itu sempat sering menggigiti bagian dalam mulutnya, tepatnya bagian pipi. Hal tersebut, menurut dia, terlihat seperti ekspresi marah yang ingin diluapkan tapi tidak bisa.

Usai dirawat di klinik, N dibawa oleh keluarga ke kediaman neneknya di Cibogo, Bandung. Saat hendak pulang, dokter di klinik menyarankan apabila N masih mengalami gejala di atas, keluarga sebaiknya membawa N ke RSJ. Hal itu diharapkan agar penanganan terhadap dia pun dapat dilakukan lebih optimal.
Hari-Hari Terakhir N

Selama di rumah neneknya, N tidak menunjukkan gejala yang dikhawatirkan seperti semula. Hanya saja menurut Aminah, dia sudah lemas tidak bisa melakukan apa-apa.

Dia hanya meminta untuk pulang ke rumahnya yang di Cihanjuang. Itu pun, menurut penuturan Aminah, permintaannya diucapkan N dengan susah payah.

“Nah pas terakhir permintaan almarhumah ini Rabu sore. Pun dengan bicara yang sudah tidak jelas. ‘Hayu puang ke Cihanjuang,’” tutur Aminah menirukan permintaan anaknya.

“Mau apa? Kalau neng sembuh [baru] ke sana (rumah di Cihanjuang),” sambung Aminah.
Kamis sekitar pukul 09.30 WIB keluarga membawa pulang N ke Cihanjuang. Mereka tiba di tujuan pada sekitar pukul 10.30 WIB.

“Kami pulang ke sini hari Kamis. Dijemput di Cibogo itu setengah 10, kami sampai Cihanjuang setengah 11,” jelas Aminah.

“Pas Ashar habis iqomah, almarhumah meninggal. Meninggal Kamis tanggal 30, jadi dimakamkannya tanggal 31,” ujar Aminah.

Editor: PARNA

Sumber: kumparan