KPK tahan 15 tersangka dugaan pungli Rutan, Jumat (15/3). Foto: Hedi/kumparan

Para petugas yang terlibat pungutan liar (pungli) di lingkungan Rutan KPK mematok nilai tertentu yang harus disetorkan para tahanan. Patokan nilainya dari Rp 300 ribu sampai Rp20 juta.

Bila telat atau kurang dalam membahayakan, maka tahanan yang bersangkutan akan dikenakan denda secara tidak langsung. Dibuat tidak bergerak bebas.
“Para tahanan yang terlambat menyetor diberikan perlakuan yang tidak nyaman di antaranya tahanan dikunci dari luar. Jadi pintunya, karena ini sel tahanan untuk tempat tidurnya, kemudian dikuncinya dari luar, sehingga tidak bebas bergerak dari luar, itu salah satu perlakukan apabila setorannya tidak lancar atau terlambat dibayarkan,” kata Asep Guntur, Direktur Penyidikan, dalam keterangan persnya, Jumat (15/3).
Perlakuan lain adalah pengurangan jatah olahraga harian. Ada juga yang diberikan jadwal bersih-bersih yang lebih sering dari tahanan yang setorannya lancar.
“Kemudian pelarangan dan pengurangan jatah olahraga … Nah, itu juga dijadikan bargaining oleh para oknum ini [15 tersangka],” ujar Asep.
“Kemudian mendapat tugas jatah jaga dan piket kebersihan yang lebih banyak,” tambahnya.
Perlakuan berbeda itu sebagai bentuk tawar-menawar secara tidak langsung bila tahanan tak menyetorkan uang harga yang sudah ditentukan. Bentuk tekanan kepada tahanan.
“Nah itu untuk memberikan tekanan supaya mereka lancar terkait dengan pungutannya,” imbuh dia.
KPK sudah menjerat dan menahan 15 orang terkait pemerasan di Rutan KPK. Termasuk di antaranya Hengki — otak pembuat sistem pungli — hingga Kepala Rutan Achmad Fauzi.
Mereka diduga mengumpulkan pungli mencapai Rp 6,3 miliar dalam rentan 2019-2023. Miliaran tersebut diterima Hengki dkk secara berkala dan nilai yang bervariasi.
Atas perbuatannya, Hengki dkk disangka Pasal 12 huruf e UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Editor: PARNA
Sumber: kumparan