Foto: Getty Images via AFP/JUSTIN SULLIVAN

Masyarakat Amerika Serikat kini makin menghemat. Bagi beberapa orang yang pendapatannya rendah, kini mereka mulai beralih memasak di rumah alih-alih membeli makanan siap saji macam McDonald’s.

Ian Borden, CFO McDonald’s, sendiri yang mengakui hal tersebut. Menurutnya, banyak konsumen mencoba mengelola inflasi, suku bunga yang lebih tinggi, dan berkurangnya tabungan.

“Ini adalah lingkungan konsumen yang menantang. Beberapa dari konsumen tersebut memilih untuk lebih sering makan di rumah,” kata Borden dilansir dari CNN, Kamis (14/3/2024).

Dampak inflasi telah mendorong orang Amerika untuk mengurangi pembelian barang yang tidak perlu. Hal ini termasuk pengeluaran mereka untuk makanan di restoran seperti McDonald’s.

Makan di luar kini menjadi lebih mewah bagi sebagian masyarakat Amerika. Bagaimana tidak, bila dilihat data inflasi bulan Februari di Amerika, inflasi makanan restoran meningkat pesat.

Dalam Indeks Harga Konsumen, harga bahan makanan untuk dimasak di rumah tumbuh 1% secara tahunan, sementara harga restoran naik 4,5% dibandingkan tahun lalu.

Lonjakan harga di restoran saat ini telah membalikkan keadaan dibandingkan tahun lalu, ketika makan di luar lebih murah. Pada saat itu, harga restoran naik 8,4% dan harga bahan makanan naik 10,2% dari tahun ke tahun.

Lantas apa yang akan dilakukan McDonald’s untuk mengatasi masalah ini? Borden menjelaskan pihaknya mulai menawarkan lebih banyak promo dalam bentuk drive-thru. Termasuk paket makanan dengan harga cuma US$ 4 atau lebih rendah di 90% lokasinya di AS.

“Kami ingin memastikan konsumen mengetahui apa yang tersedia dan tentu saja memikirkan kami saat mereka menentukan pilihan,” kata Borden.

McDonald’s juga menghadapi masalah keuangan secara internasional. Borden mencatat gejolak di Timur Tengah telah membebani penjualan di wilayah tersebut.

Penjualan dalam bisnis pasar berlisensi, yang sebagian besar lokasinya di Timur Tengah, hanya tumbuh 0,7% pada kuartal terakhir. Jauh lebih buruk dibandingkan pertumbuhan lebih dari 4% di Amerika Serikat dan bisnis internasional lainnya.

Editor: PARNA
Sumber: detik.com