Penyebab stroke belum diketahui secara pasti. Namun, ada faktor risiko pemicu stroke, seperti pola makan, tingkat stres, mengidap diabetes atau penyakit jantung.

Selain itu, aktivitas fisik seperti olahraga yang terlalu berat ternyata bisa menjadi salah satu penyebab stroke.

Penelitian yang diterbitkan European Heart Journal pada 2021, aktivitas fisik yang berat dalam sekali waktu bisa meningkatkan risiko stroke hemoragik, khususnya pendarahan intraserebral.

Kondisi ini terjadi akibat pecahnya pembuluh darah arteri di dalam otak.

Pendarahan intraserebral sering kali muncul secara tiba-tiba dan tanpa peringatan.

Orang yang terkena pendarahan intraserebral akan mengalami kesulitan berbicara, tubuh melemah, kelumpuhan di bagian tubuh tertentu, kesultan berjalan, napas tidak beraturan, pingsan, atau koma.

Selain karena aktivitas fisik yang berat, penelitian tersebut juga menyatakan faktor lain yang menyebabkan stroke, yaitu kemarahan atau gangguan emosi.

Ahli epidemiologi Universitas Nasional Irlandia, Andrew Smyth menyatakan kepada Today bahwa aktivitas fisik atau olahraga berat, kemarahan, dan gangguan emosi berpotensi menyebabkan stroke.

Pasalnya, ketiga hal tersebut berpotensi memicu peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan perubahan hormonal yang mengubah aliran darah, seperti di otak.

Itu sebabnya, penting untuk mengelola kemarahan dan manajemen emosi agar tidak menjadi faktor pemicu terjadinya serangan stroke.

Setiap orang sebaiknya juga melakukan aktivitas fisik atau olahraga dengan intensitas dan porsi yang tepat sesuai anjuran dokter.

Meskipun demikian, tidak semua episode kemarahan, gangguan emosional, atau aktivitas fisik yang berat dapat menyebabkan stroke.

Serangan stroke bisa saja terjadi karena pola makan, obesitas, memiliki kolesterol tinggi, dan faktor keturunan atau genetik.

Editor: PARNA

Sumber: kompascom