Hamas pada Sabtu (10/2/2024) memperingatkan, akan ada puluhan ribu orang yang tewas dan terluka jika militer Israel menyerang Kota Rafah di ujung selatan Jalur Gaza.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan ini memerintahkan pasukannya bersiap memasuki kota yang penuh dengan pengungsi Palestina itu.

Israel bertujuan memburu orang-orang yang bertanggung jawab atas serangan pada 7 Oktober 2023.

Pengumuman itu langsung memicu kekhawatiran dari negara-negara asing termasuk Amerika Serikat (AS), serta lembaga-lembaga bantuan yang mengurusi krisis kemanusiaan di Gaza.

Menurut Hamas, tindakan militer apa pun di Rafah akan menimbulkan dampak bencana yang dapat menyebabkan puluhan ribu orang mati dan terluka.

Kelompok penguasa Jalur Gaza itu menambahkan, mereka akan meminta pertanggungjawaban Pemerintah AS, komunitas internasional, dan pendudukan Israel jika Rafah diserang.

Rafah berlokasi di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir. Kota ini menjadi tempat berlindung terakhir bagi warga sipil yang melarikan diri dari serangan tiada henti Israel di Jalur Gaza.

Data PBB yang dikutip kantor berita AFP menunjukkan, sekitar separuh dari 2,4 juta penduduk Gaza kini berlindung di Rafah.

Kebanyakan dari mereka tidur di luar tenda dan tempat penampungan sementara, meningkatkan kekhawatiran mengenai kekurangan makanan, air, dan sanitasi.

Pada Jumat (9/2/2024), kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengatakan, serangan besar-besaran Israel di Rafah hanya akan menambah tragedi yang tak berkesudahan.

Adapun Netanyahu memerintahkan para pejabat militernya menyusun rencana untuk mengevakuasi para penghuni Rafah, sekaligus menghancurkan Hamas di kota tersebut.

Para saksi mata melaporkan serangan baru di Rafah pada Sabtu (10/2/2024) pagi, menambah ketakutan warga Palestina akan adanya invasi darat.

Editor: PARNA
Sumber: kompascom