Gempuran tanpa henti militer Israel di Jalur Gaza menyebabkan krisis kemanusiaan yang kian parah, termasuk krisis air bersih.

Laporan Reuters menyebut kondisi ini menyebabkan warga di Gaza mulai menggali sumur di daerah yang dekat dengan laut, atau mengandalkan air keran yang sudah terkontaminasi dengan limbah dan air laut.

“Karena banyaknya orang di dalam kamp, tidak ada air. Jadi saya pikir saya akan menjadi sukarelawan, datang dengan becak dan membawa air dari tempat yang jauh,” kata seorang warga di Khan Younis, Mohammad Saqr.

Dia menambahkan, “Sekarang kita sedang mengisi air asin, saya siap minum dari air laut karena apa lagi yang bisa kita lakukan?”

Menurut Otoritas Air Palestina, sebelum perang pecah dan Israel memutus pasokan listrik dan air bersih ke Gaza, 90 persen air di wilayah itu memang tidak dapat diminum.

Satu-satunya akuifer di wilayah Gaza juga sudah terkontaminasi dengan limbah, bahan kimia, dan air laut. Bahkan 10 persen akuifer yang dianggap aman untuk diminum, seringkali tercampur dengan air berkualitas buruk sehingga hanya bisa dipakai untuk mencuci.

Banyak keluarga yang tinggal di Gaza memilih untuk mengebor sumur pribadi yang mengambil air jauh di bawah tanah. Hanya sejumlah kecil keluarga yang mampu membeli air mineral.

Selain itu laporan media juga mengatakan ada warga yang membeli air olahan yang disaring dengan harga lebih murah dari truk air yang berkeliling di jalanan.

Sejak awal pekan ini Israel disebut sudah mengizinkan pengiriman bantuan internasional berupa obat-obatan, makanan, dan air bersih.

Meski begitu perwakilan PBB di Palestina menyebut pengiriman bantuan itu belum tersalurkan dengan baik lantaran kontrol ketat Israel di perbatasan Gaza dengan Mesir.

Editor: HER

Sumber: cnnindonesia