Presiden China Xi Jinping. (Foto: REUTERS/FLORENCE LO)

Presiden China Xi Jinping menegaskan negaranya terus memperkuat pelatihan dan persiapan militer dalam menghadapi segala macam bentuk perang apa pun.

Menurut laporan lembaga penyiaran China, CCTV, Xi menganggap saat ini keamanan China semakin tidak menentu dan tidak stabil.

Dikutip Reuters, Xi tidak merinci ancaman seperti apa yang saat ini dihadapi China.

Namun, belakangan eskalasi ketegangan antara China dan Taiwan terus meningkat. China terus melancarkan berbagai provokasi militer sejak kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi, dan beberapa pejabat lainnya ke Taipei pada Agustus lalu.

China bahkan mengepung Taiwan dengan latihan militer besar-besaran. Beijing dan Taipei juga saling ancam serang sampai-sampai China mengerahkan puluhan jet tempur dan kapal perang ke dekat wilayah Taiwan.

Dalam Kongres PKC kemarin, Xi Jinping juga menegaskan China menolak seruan Taiwan merdeka. PKC sepakat mengamandemen piagam partai yang mencakup penolakan terhadap kemerdekaan Taiwan.

“Dengan tegas menolak dan menahan kemerdekaan Taiwan,” demikian bunyi piagam yang sudah diamandemen.

Beijing bahkan menyatakan akan melakukan segala cara, bila perlu dengan paksa, untuk mempertahankan Taiwan. Mereka juga kerap mengintimidasi Taipei dengan mengerahkan jet tempur ke wilayah Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) pulau itu.

Amerika Serikat juga memprediksi China bisa melancarkan invasi ke Taiwan dalam waktu dekat.

Kepala Operasi Angkatan Laut AS Michael Gilday berpendapat bahwa pidato Presiden China Xi Jinping di Kongres Partai Komunis China (PKC) ke-20 menunjukkan sikap Negeri Tirai Bambu atas pemisahan Taiwan.

“Itu bukan hanya sesuatu yang disampaikan Presiden Xi, tetapi itu terkait bagaimana sikap China dan apa yang mereka lakukan. Apa yang kita lihat selama 20 tahun terakhir adalah mereka melakukan setiap janji yang mereka ucapkan sebelumnya,” kata Gilday, dikutip dari South China Morning Post.

Gildan kemudian berkata, “Jadi ketika kita membicarakan soal periode waktu [penyerangan] pada 2027, di pikiran saya, itu terjadi pada 2022 atau 2023. Saya tidak bisa mengesampingkannya.”

Tak hanya AS, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, Igor Sechin, meyakini Taiwan akan kembali bersatu dengan China sesuai jadwal.
Bos perusahaan minyak raksasa Rusia ROSN.MM itu turut melontarkan pujian terhadap Presiden China Xi Jinping yang baru-baru ini menetapkan diri memimpin Negeri Tirai Bambu untuk periode ketiganya.

“Posisi kepemimpinan (China) sangat dihormati, yang dengan tenang dan terbuka, tanpa premis palsu, memantapkan posisinya, bahkan pada masalah yang paling sulit, seperti masalah Taiwan, yang dalam hal ini dapat dinilai agak berlebihan,” kata Sechin dalam forum ekonomi internasional di Baku pada Kamis (27/10).

“Taiwan akan kembali ke pelabuhan aslinya (China) tepat waktu,” ucapnya lagi.

Editor: HER

Sumber: cnnindonesia