Ribuan pendemo terutama perempuan di Athena, Berlin, Brussels, Istambul, Madrid, Paris hingga New York turun ke jalan memprotes Iran soal kematian Mahsa Amini. (Foto: AP/Bilal Hussein)

Demonstrasi memprotes kematian Mahsa Amini semakin meluas hingga di sejumlah negara Eropa hingga ke Amerika Serikat.

Ribuan pedemo terutama perempuan di Athena, Berlin, Brussels, Istanbul, Madrid, Paris, hingga New York turun ke jalanan untuk memprotes Iran soal kematian Amini.

Amini, perempuan 22 tahun, meninggal dunia di rumah sakit pada Jumat (16/9/2022) setelah tiga hari koma. Perempuan asal Kota Saghez, Kurdistan, ini koma tak lama usai ditahan oleh polisi moral Iran di Teheran karena tidak memakai kerudung atau hijab sesuai aturan yang berlaku.

Amini ditangkap ketika tengah melancong ke ibu kota karena dinilai melanggar aturan hijab. Media lokal dan kelompok pemerhati HAM mencatat Amini menderita beberapa luka pukulan di kepala. Pihak keluarga juga mengklaim polisi memukuli Amini saat mengangkutnya dengan mobil polisi ke penjara.

Kematian Amini pun memicu protes besar di Iran hingga solidaritas yang sama muncul di berbagai negara lain terutama Eropa dan AS.

Demonstrasi solidaritas terhadap Amini bahkan berakhir ricuh di Paris, Prancis. Polisi terpaksa sampai menembakkan gas air mata demi meredam para pengunjuk rasa.

Dilansir AFP pada Senin (26/9), para pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota Paris. Mereka dua hari berturut-turut melakukan aksi protes terkait kematian Mahsa Amini usai ditangkap polisi moral Iran.

Demonstrasi dimulai dari Trocadero Square di pusat Paris. Beberapa demonstran meneriakkan kemarahan mereka terhadap Pemerintah Iran serta menentang kepimimpinan Ayatollah Ali Khamenei.

Demonstran bergerak menuju Kedubes Iran. Polisi dengan baju besi anti huru hara memblokade jalan pengunjuk rasa.

“Pada beberapa kesempatan kelompok mencoba menerobos penghalang jalan yang didirikan di dekat kedutaan Iran. Polisi menggunakan … gas air mata untuk mengusir mereka,” pernyataan polisi Paris.

Polisi Paris mengklaim ada 4.000 massa demonstrasi. Satu orang dilaporkan ditangkap dan satu petugas kepolisian terluka.

Di Iran sendiri demonstrasi terus meluas di hari ke-10 kematian Amini ini. Setidaknya 41 orang bahkan tewas di beberapa kota di Iran akibat bentrokan antara pedemo dan aparat keamanan selama demo berlangsung. Salah satu korban tewas merupakan anggota pasukan keamanan Iran.

Kelompok HAM IHR berbasis di Oslo bahkan melaporkan korban tewas demonstrasi Amini bertambah menjadi 57 tahun. Namun, organisasi itu menekankan pemadaman internet menjadikan semakin sulit mengonfirmasi korban tewas akibat demonstrasi di Iran.

Iran juga telah menangkap ratusan demonstran, aktivis reformis, hingga jurnalis di tengah demonstrasi yang sebagian besar terjadi pada malam hari ini.

Pusat kerusuhan terjadi di wilayah Kurdistan Iran, kampung halaman Amini. Ratusan perempuan Iran yang ikut berdemo di sejumlah kota bahkan melepas jilbab mereka sambil berteriak “matilah diktator” dalam demonstrasi itu sebagai bentuk solidaritas terhadap Amini.

Editor: HER

Sumber: cnnindonesia