Dosen IPB University dari Fakultas Teknologi Pertanian Made Astawan mengungkapkan bahwa tempe adalah salah satu makanan yang baik bagi penderita diabetes.(iStockphoto/AmalliaEka)

Diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami. Penyakit kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah (glukosa) di atas batas normal.
Cara mengetahui diabetes tahap awal bisa dilakukan dengan mendeteksi sejumlah gejala awal yang muncul sejak dini.

Diabetes juga menjadi faktor risiko dari sejumlah kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. Namun sebenarnya ada makanan yang bisa membantu menurunkan risiko diabetes.

Dosen IPB University dari Fakultas Teknologi Pertanian Made Astawan mengungkapkan bahwa tempe adalah salah satu makanan yang baik bagi penderita diabetes.

Dia menyebut, tempe memiliki efek positif terhadap peningkatan kesehatan, terutama dalam pengendalian dan pencegahan penyakit diabetes melitus (DM).

Hal tersebut disampaikan berdasarkan penelitiannya yang dilakukannya terkait kedelai dan tempe serta manfaat kesehatannya saat Tempe Science Talks di Osaka University beberapa waktu lalu.

Penelitian tersebut dilakukan pada tikus ini mengungkapkan bahwa aktivitas hipoglikemik pada tempe kedelai berkecambah (GST) dan tidak berkecambah (NST).

Walaupun tidak ada perbedaan nyata yang ditemukan pada kandungan insulitropic Amino Acid pada tempe GST dan tempe NST, diketahui kandungan protein dan serat kasar lebih tinggi pada tempe GST. Sedangkan tempe NST memiliki kandungan fenilalanin dan leusin lebih tinggi dari GST.

“Insulitropik amino acid ini memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang dapat memicu sel beta pada pankreas untuk memproduksi insulin lebih banyak. Hal ini baik bagi penderita diabetes,” jelasnya dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.

Made juga menyatakan bahwa aktivitas antidiabetes oleh antioksidan dapat melindungi sel beta pankreas dari paparan radikal bebas dan menghambat penyerapan glukosa. Aksi lainnya juga termasuk menghambat inhibiting alfa amilasi dan alfa glukosidase yang dapat menghambat pencernaan pati yang menghasilkan penurunannya kadar gula darah.

“Diabetes juga dapat menyebabkan efek penurunan berat badan karena penurunan produksi insulin. Penurunan produksi insulin menyebabkan glukosa tidak bisa diolah menjadi energi. Berdasarkan penelitian tersebut, tempe dapat mengatasi efek negatif tersebut pada tikus penderita diabetes,” ujarnya.

Aktivitas hipoglikemik pada tempe tradisional semangit dan bosok memberikan hasil yang menarik pada tikus penderita diabetes.

Dari hasil penelitiannya, Made juga mengatakan bahwa tingginya kandungan isoflavon pada tempe dapat menghambat dan menetralkan radikal bebas. Dinyatakan tempe memiliki prospektif bagus untuk menekan kadar gula darah tanpa mengonsumsi obat antidiabetes.

“Artinya, diet pada penderita diabetes dengan mengkonsumsi tempe sangatlah baik dan disarankan,” katanya.

“Peningkatan fungsi sel beta pankreas dapat ditingkatkan dengan produksi insulin dan penyerapan glukosa dalam sel dan kadar gula darah rendah. Hal ini dapat diupayakan dengan mengonsumsi tempe tradisional maupun olahannya.”

Editor: ARON
Sumber: cnnindonesia