Ilustrasi orang membuat roti. Foto: Getty Images/Tom Merton

Tas keluaran brand high-end, perhiasan atau jam tangan mewah tidak berlaku untuk menunjukkan kekayaan di Korea Utara. Rakyat di negara komunis itu lebih memandang sepotong roti sebagai simbol status sosial tinggi.

Fenomena ini disebabkan kelangkaan tepung terigu sebagai bahan utama pembuatan roti. Menurut laporan Radio Free Asia (RFA), harga tepung terigu menjadi sangat mahal di Korea Utara sehingga keluarga atau seseorang yang bisa makan roti dipandang sebagai orang kaya.

Seperti dilansir Insider, harga tepung terigu kini tiga kali lebih mahal ketimbang beras, yang sebelumnya dianggap sebagai makanan mewah di kalangan masyarakat dengan status sosial tinggi di Korea Utara. Sebagian besar rakyat Korea Utara mengonsumsi jagung atau biji-bijian kasar lain sebagai makanan utama.

“Ketika harga tepung terigu tiga kali lebih mahal dari beras, seperti yang terjadi sekarang ini, roti dan pangsit mandu tiba-tiba saja jadi makanan yang hanya bisa dinikmati pejabat tinggi dan orang yang sangat kaya. Jadi makanan yang terbuat dari tepung kini jadi simbol kekayaan,” ungkap seorang sumber kepada RFA.

Sumber lainnya mengungkapkan bahwa tepung terigu kini menjadi bahan makanan mewah yang digunakan orang-orang kaya untuk memamerkan hartanya ketika ada tamu datang ke rumah. Keluarga mereka akan dianggap terpandang ketika bisa membuat atau membeli makanan seperti roti dan jijim (sejenis panekuk dengan citarasa gurih).

Harga tepung terigu di Korea Utara awalnya sekitar 4,000 hingga 6,000 won (sekitar Rp 46 ribu – Rp 69 ribu) per kilogram. Setelah pandemi COVID-19 merebak, harganya melonjak naik di 30 ribu won atau Rp 346 ribuan per kilogram.

Saat COVID-19 menyebar di berbagai negara khususnya Asia, Korea Utara segera menutup perbatasan dan menghentikan impor di awal 2020. Hal itulah yang membuat kelangkaan tepung terigu hingga harganya sangat mahal untuk bisa dinikmati rakyat jelata.

Editor: ARON

Sumber: detiknews