Pengelola limbah eceng gondok mengubahnya menjadi kerajinan tangan.

Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia hingga saat ini, bisa kita akui sangat menghantam seluruh sektor perekonomian.

Mulai dari sektor ekonomi seperti perindustrian hingga usaha pariwisata, restoran, dan masih banyak lagi

Namun hal ini ternyata berbanding terbalik, dengan apa yang dirasakan oleh Isnawati pengolah limbah eceng gondok yang mengubahnya menjadi kerajinan tangan di Batam, Kepulauan Riau.

Isnawati (45) mengakui, omset penjualan kerajinan tangan berbahan dasar eceng gondok ini, seketika meningkat disaat aturan Work From Home (WFH), mulai digalakkan oleh Pemerintah.

“Pesanan pot bunga saya seketika meningkat, bahkan sampai saya dan teman-teman sempat kewalahan. Bisa dikatakan usaha yang kami jalani bersama, tidak begitu merasakan dampak sejak awal pandemi kemarin,” ungkapnya saat ditemui di stand pameran yang berada di Mall Bida Ayu, Piayu, Senin (24/1/2022).

Menurutnya, aturan WFH yang dijalani oleh masyarakat Batam di masa pandemi, membuat sebagian besar orang menyalurkan tingkat stres dengan mengkoleksi tanaman.

Hal inilah yang menjadi sebab utama, seketika pesanan pot bunga berbahan dasar limbah eceng gondok miliknya, menjadi laris dan banyak dicari oleh orang.

“Saya pernah tanya beberapa pembeli, mereka bilang memang untuk koleksi tanaman mereka. Mereka sebut sih daripada stres kerja dirumah terus, dan gak ada kegiatan lain,” lanjutnya sambil tertawa.

Menjalani pekerjaan tersebut sejak tahun 2013 lalu, Isnawati menyebutkan hasil kerajinan dari eceng gondok ini, sudah membawa berkah tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi keempat rekannya yang kini bersama-sama membangun usaha di bidang UMKM ini.

Isnawati menceritakan, pengembangan usaha yang dilakoninya ini, berawal dari hobi merajut yang sudah dilakukannya sejak masih berada di kampung, sebelum berpindah ke Batam.

Dengan kemampuan yang sudah dimilikinya ini, Isnawati kemudian ingin bereksperimen membuat suatu kerajinan, namun dengan bahan baku yang dahulu susah untuk didapatkan.

“Kebetulan di lokasi tinggal saya di Mangsang ini, banyak eceng gondok karena berdekatan dengan DAM Duriangkang. Saya coba ambil limbahnya, dan saya buat menjadi sendal. Sampai saat ini masih ada di rumah dan masih digunakan,” terangnya.

Berawal dari sandal inilah, Ismawati kemudian mengajari beberapa rekannya, dalam membuat berbagai kerajinan lain seperti tas, pot bunga, karpet mini, hingga meja berukuran 70 cm beserta kursi, dan sofa berbahan dasar eceng gondok.

Darisana, bahkan kini usaha Ismawati telah digandeng oleh Bank Indonesia (BI) perwakilan Kepri, dan masuk menjadi salah satu Wirausaha Binaan Bank Indonesia (WUBI).

Walau demikian, pandemi Covid-19 juga membawa satu sisi buruk bagi usaha UMKM miliknya, dimana untuk sementara Ismawati harus kehilangan pelanggan yang berasal dari Malaysia dan Singapura.

“Karena kemarin kan sudah tidak bisa mengirim produk lagi kesana. Kan dilarang mas. Yah kita perkuat penjualan di lokal aja saat ini mas. Saya pikir awalnya bakal lesu, ternyata itu tadi kami ternyata sempat keteteran,” sambungnya.

Mengenai keuntungan dari mengolah limbah eceng gondok, yang kebanyakan berasal dari DAM Duriangkang ini, Ismawati mengaku sebulan dapat meraup untung sebesar Rp10 juta.

Saat ini, Ismawati mengaku hanya ingin memperluas usahanya, guna membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Batam yang terdampak Covid-19.

“Mudah-mudahan semakin besar mas, ini sekarang lagi persiapan hasil kerajinan kami akan dibawa pameran ke Jepang oleh BI. Saat ini sepertinya pengiriman ke luar negeri sudah bisa lagi. Semoga saja semakin membaik,” harapnya.

Bagi anda yang mungkin tertarik mendapatkan hasil kerajinan tangan berbahan dasar eceng gondok ini, bisa langsung menghubungi langsung akun Instagram @isnapuring_ecenggondokbatam

“Saat ini produk-produk kami juga sudah banyak dipakai oleh beberapa cafe dan coffeshop. Terutama hasil karya meja dan sofa nya,” paparnya.

Editor: WIL