Ilustrasi. (iStockphoto/Svetlana-Cerruty)

Pasien pertama Covid-19 varian Botswana di Hong Kong diduga menularkan virus itu ke orang kedua akibat memakai masker dengan katup udara.

Televisi Radio Hong Kong (RTHK) melaporkan bahwa dugaan ini muncul setelah seorang ahli mikrobiologi dari Universitas Hong Kong, Yuen Kwok Yung, merilis hasil penyelidikannya pada Kamis (26/11/2021).

Investigasi itu menunjukkan masker yang dipakai pasien itu berkontribusi dalam penularan virus corona ke pasien kedua melalui udara.

Hong Kong memang melaporkan dua kasus Covid-19 varian Botswana. Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong (CHP) mengonfirmasi varian baru itu dibawa seorang laki-laki berusia 36 tahun yang terbang dari Afrika Selatan pada 11 November.

Saat tiba, ia dinyatakan negatif Covid-19. Dua hari kemudian, dia menjalani tes lagi dan dinyatakan positif Covid-19.

Laki-laki itu diduga menularkan virus ke laki-laki lain yang tinggal di ruangan sebelahnya. Mereka lantas dikarantina secara terpisah di hotel bandara Regal, Chek Lap Kok, Hong Kong.

Usai mendeteksi 2 kasus itu, 12 orang yang tinggal di tiga ruang dekat kamar mereka dari 1 hingga 14 November diwajibkan untuk menjalani karantina dua pekan di Pusat Karantina Penny’s Bay Center.

Sejak saat itu, pemerintah Hong Kong juga melarang penggunaan masker dengan katup udara atau celah untuk bernapas selama karantina di hotel. Masker itu disebut tak efektif memfilter embusan udara dari luar.

Pemerintah juga menyarankan pembersih udara dipasang di ruang karantina di hotel jika tamu ingin berolahraga.

“(Untuk) menghilangkan aerosol yang dihasilkan selama berolahraga,” demikian pernyataan pemerintah Hong Kong, seperti dikutip The Straits Times.

Para ahli menyatakan bahwa tingkat mutasi virus corona B.1.1.529 ini sangat tinggi. Mereka pun khawatir varian ini berpotensi melemahkan kemanjuran vaksin Covid-19 yang ada saat ini.

Ravi Gupta, seorang profesor mikrobiologi klinis di Universitas Cambridge, mengatakan bahwa penelitian di labnya menemukan dua mutasi pada B.1.1.529 kurang dikenali oleh antibodi.

Ini tandanya, antibodi yang selama ini dibangun oleh vaksin Covid-19 kurang bisa mengenali dan melawan virus corona varian Botswana.

“Mutasi ini memang menjadi perhatian. Namun, hal utama yang harus diamati adalah kemampuan penularan virus. Sebab, inilah yang mendorong varian Delta (meledak). (Kemampuan) menghindari kekebalan hanyalah sebagian gambaran tentang apa yang mungkin terjadi,” ujar Gupta.

Varian ini sendiri pertama kali ditemukan di Botswana pada 11 November lalu. Saat itu, Kemenkes Botswana melaporkan empat kasus varian B.1.1.529 itu. Semua pasien tersebut sudah menerima vaksinasi lengkap.

Pada 14 November, Afsel mencatat temuan perdana Covid-19 varian Botswana. Menurut Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan, sudah ada 22 kasus varian baru terdeteksi di negara itu hingga saat ini.

Editor: ARON

Sumber: cnnindonesia