Presiden Joko Widodo meresmikan pembangunan pabrik baterai mobil listrik PT HKML Battery Indonesia di Karawang Jawa Barat. - Agus Suparto

PT Industri Baterai Indonesia (IBC) memperkirakan kebutuhan investasi industri baterai listrik di tanah air dari hulu ke hilir mencapai US$15,3 miliar atau setara Rp218,25 triliun (kurs Rp14.265 per dolar AS).

Direktur Utama IBC Toto Nugroho menjelaskan estimasi kebutuhan ini berdasarkan proyeksi produksi baterai listrik dari proses pertambangan nikel hingga menjadi baterai cell dengan jumlah daya mencapai 140 GWh.

“Untuk melakukan proses mining sampai ke baterai cell mencapai 140 GWh membutuhkan waktu dan investasi yang besar, meski tampaknya baterai ini kecil dan sederhana,” ucap Toto di acara Economic Outlook 2022 bertajuk Akselerasi Pembangunan Energi Nasional 2022, Rabu (24/11).

Rincian kebutuhan investasi ini terdiri dari kebutuhan investasi di pertambangan sekitar US$160 juta, smelter US$2,68 miliar, pembuatan prekursor dan katoda US$5,62 miliar, dan baterai cell US$6,73 miliar.

Toto mengatakan kebutuhan investasi ini sekarang berusaha ditutup dari berbagai kerja sama yang telah dijalin perusahaan dengan sejumlah pihak.

IBC sendiri merupakan konsorsium industri baterai listrik dari hasil ‘patungan’ antara MIND ID, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, dan dua investor dari China dan Korea Selatan.

Kendati membutuhkan investasi yang besar, tapi Toto meyakini industri ini punya nilai tambah yang besar terhadap perekonomian Indonesia ke depan.

Hasil perhitungan IBC mencatat industri baterai dan mobil listrik sampai jadi dan masif digunakan bisa memberi nilai ekonomi mencapai Rp381 triliun kepada produk domestik bruto (PDB) Indonesia ke depan.

“Begitu juga dari job creation, itu akan menambah sekitar 23.500 sampai 30.000 job creation per tahun,” imbuhnya.

Selain itu, bisa mengurangi impor BBM sekitar 30 persen. Saat impor berkurang maka neraca perdagangan bisa terhindar dari defisit hingga Rp133 triliun per tahun.

Tak ketinggalan, emisi karbon yang mencemari lingkungan juga bisa berkurang sekitar 560 ribu ton CO2.

Bahkan, menurutnya, industri baterai ke depan bisa membuat Indonesia mendapat komoditas ekspor baru di pasar internasional. Pasalnya, ia yakin baterai listrik hasil produksi nasional bisa bersaing dengan para pemain saat ini, seperti Eropa, China, dan Amerika Serikat.

“Berdasarkan perhitungan kita, Indonesia punya keunggulan ekonomi karena kita bisa memproduksi dengan harga yang kompetitif, even membawa itu sampai ke pasar Eropa dan Amerika, karena harga bahan baku kita lebih murah dari yang lain dan kita terintegrasi,” pungkasnya.

Editor : ARON
Sumber : cnnindonesia