Membaca, menulis dan berhitung (calistung) menjadi hal yang rasanya diwajibkan orangtua untuk dikuasai anak. (robarmstrong2/Pixabay)

Membaca, menulis, dan berhitung (calistung) menjadi hal yang rasanya diwajibkan orangtua untuk dikuasai anak. Tak sedikit orangtua berlomba-lomba agar anaknya bisa menguasai calistung di usia sedini mungkin.

Meski demikian, kemampuan calistung yang cepat dikuasai anak sebenarnya bukan penentu Anda sukses menjadi orang tua atau menjadi tolak ukur kepintaran anak.

Psikolog Anak, Alzena Masykouri mengatakan, bagi anak dan orang tua yang terpenting adalah interaksi dan pertumbuhan yang sesuai dengan kemampuan anak.

“Pada usia dini, kemampuan calistung belum sepenting kemampuan yang lain. Kemampuan terpenting yang harus dikuasai adalah mengelola diri, mampu mengenali kebutuhan, serta mengomunikasikan dan memenuhi kebutuhan itu dengan cara yang efektif,” kata Alzena saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Senin (15/11).

Cara mengajari anak batita calistung

Pemaksaan bukan sesuatu yang bisa dibenarkan, sebaik apapun niat orang tua untuk mengajari calistung kepada anaknya. Sebagai orang tua Anda tak bisa memaksakan keinginan agar anak bisa calistung sejak dini.

Alzena mengungkapkan, mengajari anak dengan perlahan adalah hal yang baik. Oleh karenanya membuat anak menyukai calistung dengan pengenalan visual pun sangat disarankan.

“Misalnya memenuhi rak dengan buku-buku, baik juga memulainya dengan buku bergambar dan corak warna yang beragam,” kata Alzena.

Membaca, menulis dan berhitung (calistung) menjadi hal yang rasanya diwajibkan orangtua untuk dikuasai anak. (robarmstrong2/Pixabay)

Lagi pula menurut dia, anak tak harus cepat menghafal huruf dan angka. Berikut cara mengajari anak batita calistung menurut dia.

1. Jangan menuntut

Huruf dan angka tidak bermakna apapun untuk anak usia dini. Tuntutan menghafalkan sesuatu yang tidak bermakna membuat anak enggan melakukannya.

2. Tunjukan hubungan benda dengan kata

Mempelajari calistung bisa dimulai dengan memberi tahu hubungan suatu benda dengan kata. Ini bisa dimulai dengan barang-barang yang ada di rumah.

“Misalnya orang tua menunjuk topi, dan mengatakan ini adalah topi. Anak akan merasa takjub saat tahu hubungan benda dengan kata dan biasanya dia ingin tahu lebih banyak,” kata Alzena.

3. Mempersiapkan anak

Pada dasarnya, semua orang mampu membaca, menulis dan berhitung atau calistung. Namun, siap atau tidak seorang anak untuk belajar menjadi faktor penentu keberhasilan.

Tugas orang tua adalah mempersiapkan anak agar mampu dan mau belajar calistung. Misalnya dengan melakukan aktivitas sederhana seperti mengajak anak berinteraksi sambil membaca sesuatu.

“Misal di jalan ada billboard air mineral, eja perlahan, ajak anak mulai mengeja tapi jangan dipaksa,” katanya.

4. Bacakan buku cerita

Membacakan buku cerita membuat anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Saat membaca Anda juga harus membuat anak melihat langsung setiap lembar halaman.

“Dengan melibatkan anak untuk membaca membuat rasa ingin tahunya timbul dia jadi memiliki keinginan untuk membaca sendiri,” kata dia.

Yang harus dilakukan orang tua jika Anak batita kesulitan calistung?

Saat Anda telah melakukan berbagai cara untuk mengajak anak belajar calistung, ada saat anak tetap menolak dan mengalami kesulitan belajar. Sebagai orang tua mungkin Anda merasa jengkel, tapi sangat tidak dianjurkan memarahi anak.

“Introspeksi apakah usaha yang dilakukan sudah tepat dan seberapa jauh kemampuan anak dari standar yang diminta. Jika perlu, lakukan evaluasi perkembangan anak untuk tahu kemampuannya dan sesuaikanlah,” kata dia.

Editor: ARON

Sumber: cnnindonesia