Emmanuel Macron (dok. Philippe Desmazes, Pool via AP)

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa negaranya tidak perlu mengikuti negara-negara Eropa lainnya yang menerapkan lockdown virus Corona (COVID-19). Penegasan ini disampaikan Macron setelah Prancis yang dilanda gelombang kelima Corona mencatat lebih dari 20 ribu kasus dalam sehari.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (19/11/2021), Macron dalam wawancara dengan surat kabar setempat, La Voix du Nord, yang dipublikasikan pada Kamis (18/11) waktu setempat, menyatakan bahwa izin kesehatan telah sukses dalam membatasi penyebaran Corona di Prancis.

Eropa diketahui kembali menjadi episentrum pandemi Corona, yang mendorong beberapa negara termasuk Jerman dan Austria untuk menerapkan kembali pembatasan menjelang liburan Natal dan memicu perdebatan apakah vaksin saja sudah cukup untuk menangkal Corona.

Otoritas Prancis melaporkan 20.294 kasus Corona sepanjang Rabu (17/11) waktu setempat. Angka tersebut tercatat sebagai tambahan kasus harian tertinggi sejak 25 Agustus lalu. Total kasus Corona di negara ini mencapai 7,33 juta kasus.

Tingkat insiden COVID-19 di Prancis — jumlah kasus baru per minggu per 100.000 orang — tercatat naik lebih jauh menjadi 129, namun angka itu tetap jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Jerman, Inggris dan Belgia di mana angkanya beberapa kali lebih tinggi.

“Negara-negara yang menerapkan lockdown terhadap orang-orang yang tidak divaksinasi Corona merupakan negara yang belum memberlakukan izin (kesehatan). Oleh karena itu, langkah ini tidak diperlukan di Prancis,” tegas Macron.

Di Prancis, bukti vaksinasi atau hasil tes negatif Corona diperlukan untuk bisa masuk ke dalam restoran, kafe dan bioskop, juga saat naik kereta jarak jauh, di antara aktivitas-aktivitas publik lainnya.

Pekan lalu, menurut penghitungan Reuters, negara-negara Eropa menyumbang lebih dari setengah angka rata-rata kasus Corona secara global dalam tujuh hari terakhir dan separuh dari tambahan kematian.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, pada Kamis (18/11) mengumumkan pembatasan aktivitas kehidupan publik bagi orang-orang yang tidak divaksinasi di area-area yang rumah sakitnya dipenuhi dengan cepat oleh para pasien Corona. Austria juga menerapkan lockdown untuk warganya yang tidak divaksinasi.

Macron dalam pernyataannya menyebut masih menunggu panduan dari otoritas kesehatan Prancis soal apakah dosis ketiga vaksin Corona harus diperluas untuk semua orang yang memenuhi syarat untuk divaksin. Dosis ketiga atau suntikan booster saat ini hanya diberikan untuk warga berusia 65 tahun ke atas dan dalam kondisi lemah.

“Jika terbukti bahwa dosis ketiga efektif dan diperlukan untuk masyarakat yang lebih luas, maka jelas kita akan memasukkannya ke dalam izin kesehatan,” ucapnya.

Editor : ARON
Sumber : detiknews