Ilustrasi (Getty Images/iStockphoto/loops7)

Sejumlah negara di Eropa mengalami kenaikan kasus Corona dengan angka tinggi. Padahal, sebelumnya negara itu sudah dianggap berhasil mengatasi pandemi Corona.
Dilansir dari AP News, Rabu (3/11), WHO mengatakan kasus baru melonjak 6% di Eropa dibandingkan dengan peningkatan 18% pada minggu sebelumnya. Sementara, jumlah infeksi baru mingguan di wilayah lain turun atau tetap sama.

Laporan itu menunjukkan penurunan paling tajam terlihat di Timur Tengah, di mana kasus baru menurun 12%. Sementara di Asia Tenggara dan Afrika terjadi penurunan sebanyak 9%.

Tingkat infeksi virus corona tertinggi sejauh ini terjadi di Eropa yang melaporkan sekitar 192 kasus baru per 100.000 orang. Pada peringkat kedua diikuti oleh Amerika, yang memiliki sekitar 72 kasus baru per 100.000 orang.

Republik Ceko, Polandia, dan negara-negara lain di Eropa Tengah dan Timur telah melaporkan lonjakan infeksi baru-baru ini. Peningkatan dalam kasus yang dikonfirmasi di seluruh Eropa sebagian besar terjadi di Inggris, Rusia, Turki dan Rumania.

Peningkatan paling dramatis dalam kematian terjadi dalam seminggu lalu adalah di Rusia. Di negara itu, ada lebih dari 8.100 kematian akibat Corona yang tercatat dan Ukraina dengan 3.800 kasus kematian.

Sementara di Hungaria, infeksi COVID harian meningkat lebih dari dua kali lipat dalam seminggu terakhir menjadi 6.268. Di negara itu, penggunaan masker hanya diwajibkan pada transportasi umum dan di rumah sakit.

Lalu di mana saja negara di Eropa yang diamuk gelombang Corona di pekan ini? Berikut ini daftarnya:

1. Jerman

Jerman sempat dipuji karena cepat tanggap menangani pandemi COVID-19. Namun, kini Jerman mengalami keterpurukan karena kasus Corona di negara itu terus melonjak.

Pada Kamis (11/11), waktu setempat, negara Eropa itu mencatat rekor lebih dari 50 ribu dalam sehari. Angka itu merupakan rekor tertinggi sejak pandemi.

Hal ini dikarenakan upaya vaksinasi Jerman berjalan lambat dan harus menghadapi skeptisisme vaksin yang keras kepala dalam populasinya. Hingga saat ini, 69,8% populasi di Jerman telah menerima satu vaksinasi COVID-19 dan 67,3% populasi telah divaksinasi lengkap. Ini kurang tinggi dibandingkan dengan 79,8% populasi Inggris di atas usia 12 tahun yang sekarang telah divaksinasi lengkap.

Pekan lalu, Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, mengatakan, “Kita saat ini mengalami pandemi terutama di antara mereka yang tidak divaksinasi dan sangat masif.” Dia pun mendesak warga Jerman untuk mendapatkan vaksin booster (penguat).

Beberapa negara bagian di Jerman yang paling parah lonjakan kasus Corona-nya, termasuk Saxony, Bavaria, dan yang terbaru Berlin, telah memberlakukan aturan pembatasan-pembatasan baru terhadap orang yang tidak divaksinasi di sebagian besar tempat-tempat umum dalam ruangan.

Diketahui, banyak warga Jerman yang tidak divaksinasi karena berada dalam kelompok usia yang secara statistik kemungkinan mengalami kasus Corona tidak terlalu parah. Namun, mereka masih bisa menularkannya ke orang lain yang berusia lebih tua dengan imun yang lebih lemah.

2. Prancis

Meski belum ada rencana lockdown, negara di Eropa selanjutnya yang juga melaporkan kenaikan kasus COVID-19 adalah Prancis. Corona varian Delta menjadi penyumbang terbesar kenaikan kasus.

Bahkan, pada Rabu (10/11), Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran, mengatakan Prancis berada di awal gelombang kelima pandemi.

Per Kamis (11/11) Prancis melaporkan 12.603 kasus Corona, dengan penambahan kasus meninggal sebanyak 17 orang.

3. Austria

Austria akan memberlakukan lockdown bagi orang yang belum divaksin. Hal itu dilakukan karena kasus Corona di negara itu terus melonjak.

“Menurut rencana tambahan, kita sebenarnya hanya memiliki beberapa hari sampai kita harus memberlakukan lockdown bagi orang yang tidak divaksinasi,” ucap Kanselir Austria, Alexander Schallenberg pada sebuah konferensi pers, menambahkan bahwa tingkat vaksinasi Austria “sangat rendah”.

Pemerintah Austria pada Jumat (12/11) waktu setempat menyatakan bahwa orang-orang yang tidak divaksinasi dilarang masuk restoran, bioskop, lift ski dan penyedia “layanan yang dekat dengan tubuh” seperti penata rambut.

“Lockdown untuk yang tidak divaksinasi berarti seseorang tidak dapat meninggalkan rumah kecuali mereka yang akan bekerja, berbelanja (untuk kebutuhan pokok), berjalan-jalan – tepatnya merujuk pada apa yang harus kita alami pada tahun 2020,” kata Schallenberg mengacu ke lockdown nasional yang diterapkan pada tahun 2020.

Lonjakan kasus COVID-19 di Austria ini terjadi pada saat negara-negara Eropa Timur dengan tingkat vaksinasi terendah di benua Eropa mengalami angka kematian harian per kapita tertinggi di dunia. Pakar-pakar Belanda pada Kamis (11/11) merekomendasikan lockdown sebagian selama dua minggu untuk menekan lonjakan kasus.

Austria, sebaliknya, ingin menghindari pembatasan ketat bagi mereka yang telah divaksinasi penuh.

4. Belanda

Pemerintah Belanda akan menerapkan kebijakan lockdown (penguncian) sebagian yang pertama di Eropa Barat sejak musim panas, sebagai upaya menghentikan lonjakan kasus COVID-19.

Dilansir dari Reuters dan Channel News Asia, Jumat (12/11), media penyiaran Belanda, NOS yang mengutip sumber-sumber pemerintah, melaporkan bahwa tempat-tempat publik seperti bar, restoran dan toko non-esensial akan diperintahkan untuk tutup pada pukul 19:00 setidaknya selama tiga minggu ke depan dimulai pada Sabtu (13/11).

Orang-orang juga akan dihimbau untuk sebisa mungkin bekerja dari rumah, dan tidak ada penonton yang diizinkan di acara-acara olahraga dalam beberapa minggu mendatang. Sekolah, teater dan bioskop akan tetap dibuka.

Kabinet pemerintahan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, akan mengambil keputusan akhir pada Jumat (12/11) ini, dan akan mengumumkan langkah terbarunya melalui konferensi pers.

Kasus baru COVID-19 di Belanda terus melonjak setelah kebijakan pembatasan sosial dilonggarkan pada akhir September, dan mencapai rekor sebanyak 16.300 kasus dalam sehari pada Kamis (11/11).

WHO Serukan Negara di Eropa Genjot Vaksinasi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan upaya vaksinasi yang lebih tepat sasaran untuk memastikan kelompok yang paling rentan di seluruh dunia mendapatkan vaksin virus Corona. Badan kesehatan PBB tersebut mengatakan Eropa kini kembali menjadi pusat pandemi, mencatat hampir dua juta kasus COVID-19 pekan lalu.

“Itu adalah yang paling banyak dalam satu minggu di kawasan itu sejak pandemi dimulai,” kata kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan seperti diberitakan AFP, Sabtu (13/11/2021).

Saat negara-negara berupaya untuk mengendalikan penularan Corona dengan memberlakukan kembali pembatasan atau meluncurkan lebih banyak vaksin dan booster, WHO mengatakan sangat penting untuk memastikan vaksin diberikan kepada mereka yang paling membutuhkannya, di benua itu dan sekitarnya.

“Ini bukan hanya tentang berapa banyak orang yang divaksinasi. Ini tentang siapa yang divaksinasi,” kata Tedros.

“Tidak masuk akal untuk memberikan booster kepada orang dewasa yang sehat, atau memvaksinasi anak-anak, ketika petugas kesehatan, orang tua dan kelompok berisiko tinggi lainnya di seluruh dunia masih menunggu dosis pertama mereka,” imbuhnya.

Menurut WHO, negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang luas dan tinggi, peningkatan kasus COVID-19 tidak akan menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian, karena vaksin sangat efektif untuk melindungi terhadap penyakit parah.

Namun, dia memperingatkan bahwa bahkan di negara-negara di mana jumlah vaksinasi secara keseluruhan tinggi, sistem kesehatan dapat dengan cepat berada di bawah tekanan jika banyak warga kelompok rentan tidak divaksinasi.

“Jika Anda berada di Eropa sekarang, di mana kita memiliki penularan yang intens, dan Anda berada dalam risiko tinggi kelompok rentan atau orang yang lebih tua dan Anda tidak divaksinasi, taruhan terbaik Anda adalah mendapatkan vaksinasi,” katanya kepada wartawan.

Editor: ARON

Sumber: detiknews