Biden dan Xi Jinping di Beijing, China, pada 2013 lalu. (Foto: AFP/LINTAO ZHANG)

Presiden China Xi Jinping memperingatkan kawasan Asia Pasifik tidak boleh kembali tegang seperti di era Perang Dingin.
Pernyataan itu diutarakan Xi ketika persaingan antara China dan Amerika Serikat terus menegang menjelang rencana pertemuan virtualnya dengan Presiden Joe Biden pekan depan.

“Kawasan Asia-Pasifik tidak bisa dan tidak boleh masuk kembali dalam konfrontasi dan perpecahan era Perang Dingin,” kata Xi dalam pesan video yang diputar di forum CEO dalam rangkaian KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), Kamis (11/11).

Dalam kesempatan itu, Xi juga menggarisbawahi soal inisiatif ideologis untuk membentuk kelompok atau aliansi kecil dengan alasan geopolitik pasti akan gagal.

Pernyataan Xi ini merujuk pada upaya Amerika Serikat dan sekutunya, seperti India, Jepang, dan Australia dalam mengurangi pengaruh China atas kawasan Asia-Pasifik, khususnya dalam bidang ekonomi dan militer.

Hal itu juga disinggung Xi ketika China berulang kali menentang keras pembentukan kemitraan pertahanan baru antara AS, Inggris, dan Australia yang disebut AUKUS.

Kesepakatan trilateral itu membantu Australia membangun kapal selam bertenaga nuklir yang dinilai banyak negara dapat meningkatkan risiko perlombaan senjata di kawasan.

Selain soal geopolitik, Xi turut menyerukan kebangkitan negara-negara Asia Pasifik dari bayang-bayang pandemI Covid-19 demi mencapai pemulihan ekonomi yang stabil.

Menurut Xi, memulihkan ekonomi pascapandemi merupakan tugas paling mendesak bagi seluruh negara di kawasan.

“Kita harus menerjemahkan konsensus bahwa vaksin Covid-19 adalah barang publik global ke dalam tindakan nyata untuk memastikan distribusi yang adil dan merata,” kata Xi.

Sementara itu, KTT APEC tahun ini diselenggarakan oleh Selandia Baru secara virtual, mengingat kasus varian Delta yang kian meningkat di negara itu dan beberapa negara lainnya.

Kondisi AS dan China terus memanas akhir-akhir ini. Mulai dari klaim China atas wilayah Taiwan, kemudian dilanjutkan dukungan Presiden AS Joe Biden terhadap Taiwan, membuat kedua negara adidaya itu terus berada dalam situasi genting menuju konflik.

Tak hanya itu, persaingan ekonomi dan militer antar AS-China juga turut memperparah ketegangan kedua negara.

Meski begitu, Presiden Biden santai menanggapi potensi konflik terbuka antara AS-China. Menurut Biden, hal itu kecil kemungkinan terjadi lantaran dia kerap menegaskan kepada Xi bahwa apa yang terjadi antara China-AS ini merupakan persaingan, bukan konflik.

Para pejabat AS pun menilai melakukan pembicaraan langsung antara Biden dan Xi merupakan cara terbaik untuk mencegah konflik antara dua negara besar itu.

Meski begitu, tanggap pertemuan virtual Xi dan Biden hingga kini belum diumumkan. Namun, seorang pejabat Gedung Putih yang mengetahui jadwal Biden mengatakan video call dengan Xi kemungkinan dilakukan pekan depan.

Editor : ARON
Sumber : cnnindonesia