Studi ungkap sering minum kopi berisiko alami penyakit ginjal. (Foto: Karolina/KaboomPics)
Studi terbaru menunjukkan minum kopi dapat mencegah penyakit liver. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health ini mendapati semua jenis kopi dapat menurunkan risiko penyakit liver kronis, penyakit liver berlemak, kanker hati, dan kematian akibat penyakit liver kronis.

Data global menunjukkan penyakit liver atau penyakit hati menyebabkan dua juta kematian setiap tahun. Satu juga di antaranya meninggal karena sirosis, virus hepatitis, dan kanker hati karsinoma hepatoseluler.

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universities of Southampton ini menganalisis data kesehatan hampir 500 ribu orang. Peneliti memeriksa data mereka rata-rata selama 10,7 tahun.

Sebanyak 384 ribu orang adalah peminum kopi baik berkafein, tanpa kafein, kopi bubuk, dan kopi instan. Sebanyak 109 ribu lainnya tidak meminum kopi dan berfungsi sebagai kelompok kontrol.

Selama masa penelitian terdapat 3.600 diagnosis penyakit liver kronis, 5.439 kasus penyakit liver kronis atau penyakit hati berlemak, 184 kasus kanker hati. Selain itu juga terjadi 301 kematian akibat penyakit hati kronis.

Berdasarkan hasil analisis, peneliti menemukan risiko penyakit liver kronis pada peminum kopi 21 persen lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi kopi.

Orang yang minum kopi juga memiliki penurunan risiko hingga 19 persen untuk mengembangkan penyakit hati kronis atau perlemakan hati. Kopi juga menurunkan risiko karsinoma hepatoseluler hingga 21 persen. Peminum kopi juga 49 persen lebih kecil risiko meninggal karena penyakit hati.

Studi ini juga menemukan minum kopi dari biji giling memiliki pengurangan risiko penyakit liver yang lebih besar dibandingkan dengan jenis kopi lainnya. Kopi bubuk juga lebih bermanfaat dibandingkan kopi instan.

“Kopi dapat diakses secara luas, dan manfaat yang kami lihat dari penelitian kami berarti dapat menawarkan pengobatan pencegahan potensial untuk penyakit hati kronis. Ini akan sangat berharga di negara-negara dengan pendapatan lebih rendah dan akses yang lebih buruk ke perawatan kesehatan dan di mana beban penyakit hati kronis paling tinggi,” kata pemimpin penelitian Oliver Kennedy, dikutip dari Medical News Today.

Editor : ARON
Sumber : cnnindonesia