Ilustrasi. Rotasi Bumi yang dilaporkan melambat ternyata memiliki sejumlah dampak bagi warga Bumi. (iStockphoto/Abrill)

Rotasi Bumi dilaporkan melambat, hal tersebut memberikan sejumlah dampak bagi penghuni Bumi.
Pelambatan rotasi Bumi mengakibatkan panjang satu hari di Bumi semakin lama. Bahkan diperkirakan perlambatan ini membuat perhitungan waktu dunia mesti bertambah satu detik.

Belum diketahui apa penyebab dari lambatnya rotasi Bumi. Para ilmuwan tak yakin apa yang mendasari perubahan jangka panjang dari rotasi Bumi.

Perlambatan rotasi terjadi sejak miliaran tahun lalu
Berdasarkan catatan fosil, 1,4 miliar tahun lalu satu hari di Bumi hanya 18 jam. Sementara 70 juta tahun lalu panjang hari di Bumi hanya 1,5 jam lebih pendek dari saat ini.

Bukti-bukti menunjukkan satu hari di Bumi bertambah 1,8 milisekon dalam 100 tahun. Sehingga, perlambatan rotasi yang berlangsung perlahan ini tidak terasa langsung bagi manusia.

Sehingga, digunakan jam atom untuk menghitung waktu yang lebih akurat, tidak terpengaruh oleh rotasi Bumi. Jam atom menunjukkan satu hari di Bumi telah bertambah 1,7 milisekon dibanding 100 tahun lalu.

Rotasi Bumi tak stabil
Rotasi Bumi memang tidak stabil, kadang berputar lebih lambat atau bahkan lebih cepat seperti terjadi pada 2020. Sehingga, untuk perhitungan waktu yang lebih presisi, para ilmuwan memilih untuk menggunakan jam atom ketimbang bergantung pada putaran rotasi Bumi.

Pada 2020, rotasi Bumi lebih cepat hingga memecahkan rekor hari terpendek sebelumnya, yang ditetapkan pada 2005 sebanyak 28 kali, seperti dikutip Space.

Hari terpendek terjadi pada 19 Juli 2020, ketika planet Bumi menyelesaikan rotasinya 1,4602 milidetik lebih cepat dari rata-rata 86.400 detik.

Saat ini, menurut Time and Date, putaran Bumi kian melambat. Paruh pertama tahun 2021 masih berlangsung cepat, dengan rata-rata lama hari mencatat waktu 0,39 milidetik lebih sedikit daripada tahun 2020. Namun dari 1 Juli hingga 30 September, hari-hari makin panjang dengan rata-rata menjadi 0,05 milidetik dibandingkan tahun 2020.

Berikut sejumlah efek perlambatan rotasi Bumi:
1. Ledakan jumlah oksigen di atmosfer
Peneliti menemukan efek perlambatan rotasi Bumi berkaitan dengan penambahan kadar oksigen di atmosfer 2,4 miliar tahun lalu.

Ahli mikrobiologi Gregory Dick dari Universitas Michigan menjelaskan Hal ini terjadi karena dengan siang hari yang lebih panjang, maka makhluk berklorofil bisa memproduksi lebih banyak oksigen, khususnya alga hijau-biru (atau cyanobacteria).

Akibat lonjakan alga hijau-biru, terjadilah Peristiwa Oksidasi Hebat. Kehadiran mereka membuat atmosfer Bumi mengalami peningkatan oksigen luar biasa. Sebab, tanpa oksigen yang cukup kehidupan di Bumi tak mungkin muncul.

2. Potensi makin sering gempa besar
Para ilmuwan memprediksi bahwa pada 2018, aktivitas seismik Bumi dengan gempa bumi bermagnitudo besar akan semakin sering terjadi.

Peningkatan ini akan terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Peningkatan frekuensi guncangan sendiri diyakini terjadi karena perubahan kecepatan rotasi Bumi.

Hubungan erat antara meningkatnya magnitude guncangan dan aktivitas seismik Bumi dengan kecepatan rotasi Bumi diteliti oleh Roger Bilham of the University of Colorado dan Rebecca Bendick of the University of Montana.

Kedua ilmuwan telah merekam seluruh gempa bumi dengan magnitude 7 Skala Richter atau lebih besar sejak 1900. Mereka menemukan bahwa gempa lebih sering terjadi ketika kecepatan rotasi Bumi berubah.

Mereka juga menemukan bahwa rotasi Bumi melambat signifikan secara periodik dalam lima tahun sekali selama satu setengah abad terakhir. Pada periode tersebut frekuensi gempa Bumi meningkat lebih sering dan dahsyat.

Sayangnya, sulit untuk memprediksi di mana gempa hebat akan terjadi. Kendati demikian, Bilham mengatakan bahwa mereka menemukan sebagian besar gempa bumi hebat akan terjadi di dekat khatulistiwa.

Namun, sejumlah ahli menentang hasil penelitian ini dan menyebut perlu pengujian tambahan untuk mencapai kesimpulan.

3. Terjadi lompatan detik pada 2015
Pada 1 Juli 2015 terjadi peristiwa lompatan detik terdapat penambahan 1 detik dari waktu satu hari yang seharusnya 23 jam 59 menit 59 detik menjadi 23 jam 59 menit dan 60 detik.

Sejak awal tahun 2015, Badan Sistem Referensi dan Rotasi Bumi Internasional (International Earth Rotation and Reference Systems Service/IERS) sudah mengumumkan bahwa tahun ini akan memiliki waktu 1 detik lebih lama dari 2014.

Untuk mendapatkan waktu yang sesuai dengan gerakan Bumi, maka satu detik ekstra ditambahkan secara berkala pada Universal Time Coordinated (UTC) sebagai patokan standar waktu dunia.

Terakhir, lompatan detik terjadi pada 31 Desember 2016. Biasanya lompatan detik terjadi setiap akhir Juni atau Desember.

Sejak 1972, lompatan detik telah ditambahkan sebanyak 27 kali seperti dilaporkan Earth Sky.

Editor : ARON
Sumber : cnnindonesia