Ilustrasi Covid-19 (SHUTTERSTOCK/PETERSCHREIBER MEDIA)
Kemungkinan gelombang ketiga pandemi COVID-19 menghantui Indonesia. Potensi ini dibayangi oleh munculnya turunan varian Delta yang diduga lebih ganas, pertama teridentifikasi di Inggris.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengungkapkan subvarian Delta ini lebih efektif dalam menginfeksi pasien. Diketahui, subvarian ini dinamai AY.4.2.
“Saya ingin sampaikan begini. Ada perkembangan yang kurang menggembirakan soal Delta ini. Apa itu? Jadi sekarang itu ada subvariannya Delta,” ungkap Dicky ketika dihubungi, Sabtu (23/10).
“Subvarian yang ditemukan di Inggris, dan juga ditemukan di New South Wales Australia sejauh ini menunjukkan bahwa adanya subvarian Delta yang lebih fit, diduga lebih efektif dalam menginfeksi,” lanjutnya.
Di Inggris, kata Dicky, saat ini angka kematian dan pasien dirawat di rumah sakit terus meningkat. Namun, subvarian AY.4.2. ini masih diteliti lebih lanjut untuk mengungkap apa saja yang membedakannya dengan varian Delta (B.1617.2).
Varian ini masih diklasifikasi ke dalam “varian yang sedang diselidiki”, belum menjadi “varian yang mengkhawatirkan” seperti Delta.
Dicky menegaskan, ini menjadi pesan yang sangat serius bagi Indonesia. Sebab, di Indonesia pun bisa jadi ada subvarian. Menurut pandangan Dicky, jika Indonesia menghadapi gelombang ketiga, masih besar kemungkinan akan didalangi oleh varian Delta.
“Masih Delta, tapi Delta ini… selama kita tidak bisa mencegah, menemukan kasus infeksi mayoritas di masyarakat dan [kita] tidak bisa mencegah, maka adanya potensi lahir subvarian dan varian baru, ya, besar,” tegas dia.
Jika varian atau subvarian muncul di Indonesia, maka risiko yang dihadapi pastilah besar. Menurutnya, potensi yang terjadi masih tergolong di bawah potensi gelombang kedua kemarin. Tetapi, temuan di Inggris ini menjadi pukulan bagi Indonesia untuk terus waspada.
“Dan itu [varian atau subvarian baru] bisa, selain memperbesar risiko terjadinya gelombang berikutnya, juga memperburuk. Gelombang selanjutnya bisa sama, atau lebih [buruk]. Bisa saja begitu,” ungkapnya.
Epidemiolog di Kota Brisbane ini meminta vaksinasi lebih digenjot. Supaya, cakupan vaksinasi bisa semakin luas dan merata. Sebab, risiko gelombang ketiga ini sangat besar jika masih banyak orang yang rentan.
“Selama masih ada manusia, populasi masyarakat di Indonesia yang rawan, rentan. Artinya belum ada imunitas baik karena belum vaksin; tidak memiliki imun karena belum pernah terinfeksi, atau dia sudah menurun kekebalannya, itu akan jadi ada bahan bakar untuk si virus ini,” ujar Dicky.
Demi mencegah atau mempersiapkan diri, Dicky menegaskan Indonesia harus memadukan strategi 3T (Testing, Tracing, Treatment), 5M, perluasan cakupan vaksinasi dosis kedua, dan menjaga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di level 1 dan 2.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Kesehatan memperingatkan datangnya gelombang ketiga. Juru bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengutip jurnal-jurnal ilmiah, mengatakan COVID-19 bisa menimbulkan gelombang wabah berkali-kali.
“Kita tahu bahwa dari jurnal ilmiah menyatakan bahwa COVID menimbulkan gelombang epidemiologi berkali kali. Tidak cukup ia mencapai satu puncak gelombang kemudian turun seperti yang saat ini kita alami,” kata Nadia pada Jumat (22/10).
Nadia menjelaskan, gelombang ketiga itu pasti terjadi. Kemungkinan besar di akhir tahun 2021 atau awal 2022.
Indonesia sudah mengalami dua gelombang pandemi. Pertama pada Januari 2021, yang kedua Juni-Juli 2021.
Editor : ARON
Sumber : kumparan