Ilustrasi pembelajaran tatap muka. F.AP/Dita Alangkara

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat hingga saat ini baru sekitar 40 persen sekolah di wilayah PPKM Level 1-3 yang telah menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di masa pandemi Covid-19.

Jumlah itu diketahui kurang dari setengah jumlah sekolah yang telah diizinkan menggelar belajar tatap muka di PPKM Level 1-3 sebanyak 95 persen atau sekitar 274 ribu.

“Sudah 95 persen sekolah-sekolah kita yang bisa melakukan PTM terbatas karena sudah di PPKM level 3, 2, dan 1. Namun yang baru melakukan PTM terbatas ini kira 40 persen,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Iwan Syahril, Jumat (17/9).

Syahril mengatakan pihaknya terus mendorong pemerintah daerah agar segera memberi izin sekolah menggelar belajar tatap muka.

Di sisi lain, Kemendikbudristek juga telah memberi kelonggaran dengan tak menjadikan vaksinasi sebagai syarat sekolah membuka belajar tatap muka. Syarat belajar tatap muka telah diizinkan selama mengikuti protokol kesehatan dan berada di daerah PPKM level 1-3.

“Bagi satuan pendidikan daerah yang sudah atau dalam proses melakukan PTM, walaupun belum divaksin tetap diperbolehkan, selama mengikuti prokes sesuai izin dari Pemda,” kata Syahril.

Sementara itu, mengutip situs resmi Kemendikbudristek per Jumat (17/9), jumlah sekolah yang telah menggelar PTM baru mencapai 115.592. Sisanya, masih ada sekitar 158 ribu sekolah mulai jenjang PAUD hingga menengah yang belum menggelar tatap muka.

Sekolah tatap muka masih didominasi oleh TK yang angkanya mencapai 60,60 persen, lalu SD 56,69 persen, SMK 51,97 persen, SMA 51,75 persen, dan SMP 52,48 persen.

Syahril terus mendorong sekolah-sekolah segera menggelar PTM. Merujuk hasil penelitian sejumlah lembaga, termasuk UNESCO, dia menerangkan, pembelajaran jarak jauh selama ini telah menimbulkan sejumlah dampak negatif.

SelainĀ learning loss, PJJ juga berdampak pada kesehatan mental siswa, kerentanan menjadi korban kekerasan, hingga berkurangnya keterampilan sosial siswa.

“Pengembangan keterampilan sosial yang akan dirasakan oleh anak-anak ini, dalam waktu yang berkepanjangan. Terutama kelompok yang paling rentan, yang perlu untuk mendapat perhatian yang lebih tinggi,” katanya.

Editor: NUL

Sumber: cnnindonesia