Ilustrasi kulit pisang. Pixabay
Luka merupakan keadaan dimana sebagian jaringan tubuh mengalami kerusakan yang dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Kerusakan ini dapat diakibatkan oleh perubahan suhu, gigitan hewan, trauma benda tajam atau tumpul, zat kimia, hingga sengatan listrik.
Perawatan luka yang baik dibutuhkan untuk mencegah terjadinya infeksi. Sayangnya, perawatan luka yang banyak digunakan oleh masyarakat awam tidak menjaga kondisi kelembaban luka sehingga akan menyebabkan luka menjadi kering, nyeri dan berpotensi menimbulkan luka baru.
Guna mengatasi hal itu, tiga mahasiswa dari program studi Teknik Biomedis Unair berinovasi membuat perawatan luka modern berbahan kitosan-bubuk kulit pisang yang bersifat antibakteri.
Ketiga mahasiswa itu adalah Andi Bagus Rahmawan, Fahreza Rachmat, dan Sablina Damayanti.
Salah satu anggota tim, Andi mengatakan, kitosan dipilih karena sifatnya yang biokompatibel (mampu menyesuaikan dengan kecocokan tubuh penerima), non toksik, dan bersifat antibakteri, namun dalam aplikasi wound dressing kitosan memiliki kelemahan yaitu sifat mekanik yang rendah.
“Nah untuk memperbaikinya, dilakukan penambahan lignin yang berasal dari kulit pisang kepok. Pisang kepok dipilih karena termasuk bahan yang ramah lingkungan dan produksinya melimpah di Indoensia. Selain itu kulit pisang kepok juga mengandung aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan jenis pisang lainnya,” kata Andi, Jumat (27/8).
Andi menuturkan, jika pisang kepok mengandung sumber antioksidan alami seperti senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid yang berfungsi sebagai antibakteri.
“Selain itu flavonoid juga berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antibiotik. Tannin berfungsi sebagai astringen yang dapat menyebabkan penyempitan pori-pori kulit dan menghentkan eksudat serta pendarahan ringan.
Sementara saponin berperan dalam proses penyembuhan luka sekaligus mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk penyembuhan luka terbuka,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, pembuatan bubuk kulit pisang kepok ini dilakukan dengan metode pengeringan dengan oven dan penggilingan.
Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nagwa et al dan Syahputra et al diketahui bahwa campuran bubuk kulit pisang 10 persen wt memberikan hasil membran yang paling baik.
Karakteristik sampel membrane kitosan bubuk kulit pisang diketahui berdasarkan uji gugus fungsi, uji morfologi, uji swelling, uji sitotoksisitas, uji kuat tarik, dan uji antibakteri.
Di mana sampel kitosan-bubuk kulit pisang (BKP) dengan variasi konsentrasi BKP memberikan hasil sebagai berikut: berdasarkan uji gugus fungsi FTIR, pada konsentrasi BKP 10 persen wt menunjukkan adanya interaksi antara bubuk kulit pisang dengan kitosan.
Hasil morfologi SEM pada sampel kitosan-BKP 10 persen wt menunjukkan kenampakan antarmuka yang bagus. Penambahan bubuk kulit pisang menurunkan tingkat pembengkakan (swelling) terhadap air pada pembalut luka.
Berdasarkan uji kuat tarik, nilai UTS semakin besar seiring dengan penambahan konsentrasi bubuk kulit pisang (BKP).
Pada uji sitotoksisitas, didapati bahwa seluruh sampel tidak toksik dikarenakan keempat sampel memenuhi standar minimal viabilitas sel. Hasil uji antibakteri menunjukkan hasil yang sinergis dengan aktivitas antibakteri tertinggi pada konsentrasi BKP 11 persen wt.
“Hasil studi in vitro dalam penelitian ini menunjukkan potensi untuk pengembangan aplikasi wound dressing yang aman dan juga ekonomis karena bahan alami yang digunakan,” pungkasnya.
Editor : ARON
Sumber : kumparan