Ilustrasi tes usap antigen. (AP/Manish Swarup)

Capaian testing dengan metode antigen massal di Batam, Kepulauan Riau masih belum mencapai hasil maksimal, dari target seribu sampel setiap harinya.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi saat ini hanya meminta kepada petugas di Puskesmas untuk memperluas ruang lingkup warga yang akan harus ikut antigen.

Namun demikian, Rudi juga meminta agar pelaksanaan antigen tidak dapat dilakukan bersamaan dengan vaksinasi.

“Nanti malah kacau. Dua kegiatan dijadikan satu, nanti malah terjadi kekeliruan. Sehingga apa yang kami rencanakan dan sudah buat ini tidak berjalan baik, hanya karena untuk menggesa testing, terjadi keributan akibat penggabungan dua kegiatan tersebut,” ujarnya, Rabu (4/8/2021).

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, pemberitaan akhir-akhir ini terkait pelaksanaan vaksinasi juga menjadi alasan, pihaknya enggan menyatukan dua kegiatan ini.

“Nanti kalau semua sudah antigen, terus vaksin habis. Ini akan jadi kegaduhan. Untuk itu saya tidak mau warga saya ribut. Jadi antigen dan vaksinasi tetap digelar terpisah, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” bebernya.

Adapun alasan ini, dilontarkannya mengingat usulan, kegiatan vaksinasi dan antigen dapat terlaksana dalam waktu bersamaan.

Kendati demikian, Rudi menambahkan selama diberlakukan PPKM sudah terjadi penurunan kasus, meskipun jumlahnya masih rendah.

“Angka yang dirawat masih tiga ribuan. Kami berharap dalam waktu satu Minggu ini capaian kesembuhan meningkat, sehingga BOR turun. Otomatis hal ini bisa berpengaruh terhadap kebijakan pengetatan yang akan diterapkan ke depannya,” ujarnya.

Hingga tanggal 9 Agustus mendatang, diharapkan semakin banyak warga yang sembuh, dan ada penurunan grafik untuk jumlah kasus positif yang ditemukan.

“Kami hanya menjalankan kebijakan pusat saja. Data sudah kami kirim, sekarang tinggal menunggu kebijakan berikutnya. Mudah-mudahan ada penurunan level, sehingga aturan ini bisa dilonggarkan, demi mendongkrak perekonomian jelang akhir tahun ini,” tutupnya.

Editor: WIL