Ilustrasi suntik vaksin.

Komite Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komda KIPI) Kepulauan Riau, menilai penyebab meninggalnya Hartijo (49), warga Perumahan Bapeda, Batam Center murni dikarenakan Covid-19.

Ketua Komda KIPI Kepri, dr. Gama A.F Isnaeni saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (31/7/2021) pagi menyebutkan kemungkinan Hartijo telah terpapar Covid-19, sudah didapat jauh sebelum menerima vaksin.

Namun hal itu diakuinya belum menunjukkan gejala dikarenakan adanya masa inkubasi virus.

“Keterangan ini kita dapatkan setelah kita melakukan pemeriksaan terkait hal ini. Kita juga telah meminta keterangan dari pihak penyelenggara (APINDO Kepri), dan para dokter yang bertanggungjawab,” tegasnya.

Polemik ini sendiri juga telah dilaporkan ke Komnas KIPI Pusat, dan pihaknya juga tengah menunggu keputusan.

Gama menjelaskan, dalam istilah KIPI, peristiwa yang dialami oleh Hartijo adalah coincidence atau kebetulan.

Gama menduga, hal itu terjadi karena pelaksanaan vaksin yang dilakukan secara massal membuat masyarakat akhirnya tidak di-screening apakah terpapar Covid-10 atau tidak.

“Jadi memang kasus itu coincidence atau kejadian yang tidak ada hubungan tapi peristiwa terjadi secara bersamaan,” katanya.

Mengenai dua dosis yang diterima Hartijo secara bersamaan, Gama mengatakan bahwa pengujian obat memiliki fase satu, dua, dan tiga.

Selain itu, kata dia, terdapat pula istilah dosis maksimal, dosis toxic, dosis letal dan beberapa istilah lain.

Sehingga menurutnya penyuntikan dua dosis vaksin Covid-19 yang diterima Hartijo, bukan masalah.

“Karena dia masih belum mencapai dosis maksimal. Jadi masih tidak berpengaruh pada tubuh. Hanya sifatnya (dua suntikan sekaligus) itu pemborosan,” jelasnya.

Dia menuturkan, dalam pemberian obat dan vaksin juga ada istilah zip, sehingga untuk pemberian dosis aman memiliki rentang waktunya panjang.

Dengan begitu, kata Gama, tidak mungkin karena mendapat dua dosis vaksin langsung berakibat pada kesehatan, lantaran semua sudah diperhitungkan untuk keamanan.

“Jadi kita memang harus meluruskan bahwa kasus itu merupakan kejadian terpisah dan tidak ada hubungannya sebenarnya. Itulah makanya ada Komda yang bertugas meluruskan informasi terkait kejadian pascaimunisasi dan vaksin, serta menganalisa peristiwa seperti ini. Lalu Komda KIPI juga bertugas membuat tingkat kausalitas hubungan sebab akibat dan menerangkan pada masyakarat jika terjadi kejadian semacam ini. Sehingga tidak mengganggu program vaksinasi atau imunisasi yang sedang berlangsung,” katanya.

Editor: WIL