Warga yang memilih bermukim di bangunan bekas Pasar Induk Jodoh, Batam, Kepulauan Riau mengaku bigung untuk mencari tempat tinggal setelah tim terpadu melakukan pembongkaran, Senin (26/7/2021) siang.

Hal ini seperti yang dilontarkan oleh Ibu Eda, yang terlihat lemas bersama barang-barangnya yang telah disusun oleh petugas sebelum melakukan pembongkaran lapak di area bekas pasar Induk dan disulap sebagai rumah petak sederhana.

“Saya bigung mau kemana mas. Saya gak tahu nanti malam harus tidur dimana,” jelasnya lirih ditemui di area Pasar Induk Jodoh, Senin (26/7/2021).

Kekhawatiran dirinya diperparah dengan kondisi suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dan hanya membantu aktifitas di area pasar Tos 3000 Jodoh.

Selain itu, kondisi ini juga diperparah dengan situasi anak nya yang saat ini juga masih kesulitan dalam biaya sekolah.

“Sekarang bigung tempat tinggal. Sementara masalah lain adalah biaya sekolah anak mas. Sampai sekarang bahkan gak bisa ambil raport nya,” papar Eda.

Untuk itu, Eda meminta agar pihaknya yang merupakan warga miskin Kota Batam dapat diberikan solusi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam.

“Minimal kami diberikan tempat untuk bermukim saja. Kami juga gak mau tinggal disini, gak enak tapi mau gimana lagi,” ungkapnya.

Ditemui di lokasi berbeda, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Gustian Riau mengaku bahwa pihaknya tidak memiliki opsi bagi warga yang saat ini masih memilih tinggal di area tersebut.

Adapun pembongkaran ini, diakuinya setelah lelang pembangunan area baru telah selesai dilaksanakan.

Selain itu, proses pembongkaran ini juga merupakan salah satu syarat dari pihak Kementerian, agar Pemerintag Pusat dapat menurunkan dana pembangunan kembali Pasar Induk Jodoh.

“Pembongkaran salah satu syarat dari Kementerian agar dana turun. Karena lelang sudah selesai, dan lokasi ini akan dibangun kembali dengan konsep yang lebih modern,” tegasnya.

Gustian mengakui bahwa selama ini pembongkaran memang terkendala dengan adanya warga yang memilih tinggal di area tersebut.

Dimana setelah tidak digunakan, Gustian mengakui ada oknum yang menjual lokasi lapak dan disulap menjadi rumah sederhana serta disewakan dengan harga murah.

“Sudah setahun dan kita memang terkendala karena ada oknum yang sengaja menyewakan lapak untuk tempat tinggal. Tapi kali ini sudah tidak bisa ditunda lagi,” tuturnya.

Walau demikian, Gustian juga mengakui bahwa pihaknya menerima permintaan dari warga agar diberikan lahan atau lokasi untuk tempat tinggal baru.

“Tapi hal itu tidak dapat kita penuhi. Untuk itu kita berikan SP 3 kepada para penghuni disini, sejak satu tahun lalu. Intinya sudah kita beri waktu lama, namun tetap tidak pindah juga dan akhirnya kita eksekusi,” tegasnya.

Untuk proses pembangunan kembali, dijadwalkan akan mulai berlangsung pada tahun 2022 mendatang.

Dimana nantinya pihak Kementerian akan melakukan pembangunan pasar yang lebih modern, dengan memisahkan pasar basah dan pasar kering sehingga memudahkan masyarakat Batam, serta menjadi lokasi percontohan mengenai konsep pasar modern di wilayah Kepulauan Riau.

“Akan dibangun kembali lima lantai dengan konsep pasar basah dan kering dipisah. Serta lebih nyaman dibanding dengan pasar yang sudah ada,” ucap Gustian.

Editor: WIL