Diduga petugas vaksinator di karawang tak suntik cairan vaksin ke warga. Foto: Dok. Istimewa

Beredar sebuah video menunjukkan seorang petugas vaksinator diduga tidak menginjeksikan cairan vaksin COVID-19 ke tubuh pasien.

Dalam video berdurasi 14 detik itu, disebutkan lokasi peristiwa terjadi di Karawang dan diunggah seorang warga bernama Rima.

Video tersebut kemudian diunggah lagi oleh akun @halokrw pada Selasa (13/7). Dijelaskan penyuntikan vaksin yang dilakukan tak seperti vaksinasi COVID-19.

Jarum ditusukkan namun langsung dicabut lagi tanpa ada proses menekan ujung bagian atas suntikan seperti penyuntikan pada umumnya,” tulis akun @helokrw.

Menurut perekam video tersebut, Rima Melati (23), video diambil pada Senin (12/7) saat vaksinasi di Puskesmas Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang sekitar pukul 10.00 WIB.

Rima mengaku mengambil video untuk dokumentasi pribadi dan hanya mengirim video itu ke dua orang. Sementara perempuan yang disuntik dalam rekaman video adalah teman kerjanya bernama Tari Nurfadilah.

“Kalau saya, unggah video itu di WhatsApp story pribadi saya. Tidak di Instagram. Kebetulan salah satu teman saya minta videonya, akhirnya saya kasih,” kata Rima, Selasa (13/7).

“Tidak lama kemudian, HRD tempat saya bekerja juga minta. Jadi saya hanya kirim video ke dua orang saja,” tambah pegawai di toko bahan bangunan Mitra 10 ini.

Rima mengaku tidak tahu awal mula video yang ia rekam bisa menjadi viral di Instagram.

“Orang yang ada di dalam video itu ada tiga. Saya, Tari, dan Ipeh. Kami memang teman satu kantor, cuma memang bukan teman dekat. Saya baru tahu kalau Tari juga update video tersebut di Instagram miliknya, baru tahu tadi karena memang saya tidak follow akun Instagramnya,” kata Rima.

Tari disebut-sebut mengunggah video yang direkam oleh Rima. Namun belakangan unggahan tersebut dihapus. Di akun Instagramnya @tarinfdlh bahkan tidak terlihat unggahan satu pun. Hanya ada empat Instagram story yang berisi video klarifikasinya.

“Saya Tari Fadilah, pemilik akun Tari Fadilah yang memposting tentang informasi vaksin kemarin di Puskesmas Wadas, mohon maaf sebesar-besarnya dikarenakan kesalahan informasi yang saya sebar. Di mana saya sudah klarifikasi dengan pihak Puskesmas Wadas bahwa vaksinasi sudah sesuai prosedur dan saya minta maaf kepada Puskesmas dan seluruh jajarannya,” kata Tari dalam unggahan tersebut.

Dalam Instagram story di akunnya, Tari juga mengunggah foto surat permintaan maaf yang bermaterai dan ditandatangani olehnya. Sayangnya, sampai berita ini ditulis, Tari belum bisa dimintai keterangan.

Klarifikasi Petugas Vaksinator

Sementara petugas vaksinator bernama Maola Nurul Shinta sekaligus pegawai Puskesmas menyangkal dirinya tidak menginjeksikan cairan vaksin.

“Saya sudah melakukan penyuntikan vaksin sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur). Tiap kami menyuntik, botol vaksin itu langsung kami ambil pakai spuit (pompa piston dalam alat suntik) untuk disuntikkan kepada penerima vaksin,” kata Maola di Puskesmas Wadas.

Maola mengatakan, ada dua teknik dalam menyuntik. Pertama, menekan ujung alat suntik menggunakan jempol. Kedua, menekan menggunakan telapak tangan.

Maola menggunakan teknik kedua sehingga di kamera terlihat seakan-akan cairan vaksin tidak terdorong masuk ke tubuh penerima vaksin.

Selain itu, Maola mengatakan jempol tangannya kapalan. Sebab selama satu minggu sebelumnya ia sudah menyuntik dua ribu orang lebih dengan rata-rata 300 orang per hari.

“Saya menyuntik tidak satu dua orang. Saya sudah menyuntik ribuan orang. Kalau saya ingin berbuat tidak benar, buat apa saya di sini sebagai petugas vaksinator?” kata Maola.

“Mereka mungkin berkata disuntik tapi tidak berasa, itu karena respons tubuh berbeda-beda tergantung keluhan dan kenyamanannya. Ada yang disuntik bilang sakit, ada yang tidak berasa, ada yang bilang terasa,” tambah dia.

Maola berpesan kepada masyarakat untuk tidak percaya pada berita hoaks. Ia meminta masyarakat mempercayai tenaga medis yang dari awal pandemi ada di garda terdepan.

“Kami dari awal di garda terdepan, bahkan teman-teman kami banyak yang terkonfirmasi, tolong jangan lagi kami dibebani pikiran negatif dari orang-orang. Saya sedang tidak cari sensasi dan belas kasihan di sini,” tutur Maola sambil berkaca-kaca.

Penjelasan Bupati Karawang

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana bersama Wakil Bupati Karawang Aep Syaepuloh dan Kasat Reskrim Polres Karawang AKP Oliesta Ageng Wicaksana langsung mendatangi Puskesmas Wadas, Selasa (13/7).

Selain ke Puskesmas, Cellica bersama rombongan juga mendatangi tempat kerja Rima dan Tari di Mitra 10, Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang.

“Pemkab hadir untuk memintai keterangan dari kedua belah pihak karena kami tidak ingin ada opini yang terbentuk tapi belum tentu kebenarannya. Setiap orang punya hak jawab, setiap orang punya pendapat, tapi semua proses penyelidikan jadi kewenangan penegak hukum,” kata Cellica.

Cellica menambahkan, Maola yakin 100 persen sudah menyuntikkan dosis pertama vaksin jenis Sinovac ke Tari, Rima dan Ipeh. Saat ini kasus tengah diselidiki untuk mencari kepastian dari kasus ini.

“Saya memang baru pertama kali bertemu dengan Maola, tapi dia perawat senior. Selama pandemi dia sudah melakukan suntik vaksinasi ke 8 ribu orang. Karena saya dokter, saya tahu teknik penyuntikan, bisa pakai jempol, bisa pakai telapak tangan. Tapi saya tidak mau berasumsi, hasilnya nanti di proses penyelidikan,” kata Cellica.

Cellica menjamin jika Maola atau siapa pun oknum tenaga medis yang secara sengaja lalai dalam bertugas, ia tidak segan memberikan sanksi administrasi berupa pemberhentian.

“Sebaliknya, bila ada ujaran-ujaran tidak benar di media sosial, itu juga ada konsekuensi hukumnya,” ucap dia.

Cellica juga menyoroti tuduhan di akun Instagram pribadi milik Tari. Namun, redaksi tidak menemukan postingan Instagram yang dimaksud Cellica dalam akun Instagram milik Tari. Besar kemungkinan postingan tersebut sudah dihapus.

“Yang bersangkutan menyatakan pertama ‘vaksin bodong’, kedua ‘sertifikat bodong’, dan yang ketiga ‘jarum bekas pakai’. Yang pertama dan kedua ini biar jadi kewenangan penyelidikan kepolisian. Namun yang ketiga saya tidak terima. Saya pastikan tidak ada jarum bekas pakai,” kata Cellica.

Sebagai tindak lanjut dari kasus ini, malam ini tenaga medis akan mengambil sampel darah milik Rima dan Ipeh.

“Karena kondisi Tari masih syok, malam ini kami ambil sampel darah Rima dan Ipeh. Sampel darah akan dikirim ke laboratorium untuk dites apakah antibodi sudah terbentuk atau belum. Akan ada perbedaan antara sampel darah yang sudah divaksin dengan yang belum. Pihak kepolisian nanti yang akan mengumumkan hasilnya,” tutur Cellica.

Sedangkan Kasat Reskrim Polres Karawang AKP Oliesta Ageng Wicaksana ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk mengambil kesimpulan.

“Sudah dalam penyelidikan,” kata Oliesta.

Editor : Aron
Sumber : kumparan