Aurora yang merupakan efek dari Badai Matahari. Badai Matahari sempat terjadi pada 11 dan 12 Juli lalu yang mencapai Bumi dengan kecepatan hingga jutaan kilometer.(Wikipedia)

Bumi dilaporkan terpapar Badai Matahari pada Minggu dan Senin (11 hingga 12 Juli) kemarin.

Hal itu berdasarkan pengamatan seorang astronom antariksa senior, Tony Phillips seperti tertulis di situs miliknya, Space Weather.

Ia menyebut sebuah lubang sudah terbentuk di atmosfer Matahari dan memuntahkan aliran angin Matahari ke arah Bumi.

Badai matahari adalah ledakan besar partikel bermuatan, yang dikeluarkan dari atmosfer Matahari ke luar angkasa.

Ledakan Matahari menghasilkan lontaran plasma berisi elektron dan proton dengan kecepatan jutaan kilometer perjam. Lontaran plasma yang dilepaskan Matahari ini memberi efek badai Matahari bagi Bumi.

Badai Matahari terjadi ketika arus partikel bermuatan (proton dan elektron tadi) Matahari berinteraksi dengan atmosfer Bumi bagian luar.

Berikut sederet fakta terjadinya fenomena badai Matahari, yang berlangsung lebih dari satu hari.

Terjadi akibat siklus 11 tahun

Badai matahari terjadi akibat siklus 11 tahun ketika polaritas medan magnet Matahari bergeser. Gaya magnet yang bekerja pada Matahari terjerat selama proses tersebut, lalu meledak mengirimkan plasma matahari ke luar angkasa.

Ledakan itu disebut dapat memancar keluar melintasi heliosfer dan mempengaruhi seluruh Tata Surya, termasuk Bumi. Badai geomagnetik ini dapat menyebabkan gangguan sementara pada magnetosfer bumi akibat gelombang kejut angin Matahari. Magnetosfer adalah wilayah ruang yang didominasi oleh medan magnet Bumi.

Hasilkan Aurora

Imbas dari fenomena badai Matahari itu juga bisa dinikmati sebagai pemandangan yang apik di langit. Fenomena itu disebut menghasilkanaurora yang indah pada malam hari bagi mereka yang tinggal di garis lintang utara atau selatan Bumi.

Beberapa negara yang dapat menikmati pemandangan aurora itu yakni masyarakat yang berada di Kanada, dan beberapa negara bagian utara Amerika Serikat.

Aurora akan tampak berwarna-warni di wilayah dekat Kutub Utara atau Selatan. Fenomena ini dikenal sebagai Aurora Borealis di utara dan Aurora Australis di selatan.

Badai parah tiap 25 tahun

Sandra Chapman, dari Center for Fusion, Space and Astrophysics, Universitas Warwick, Amerika Serikat mengatakan badai Matahari itu adalah peristiwa langka, tetapi dapat diprediksi kapan peluang terjadinya kembali.

Dalam makalah, mereka menunjukkan bahwa badai magnet ‘parah’ terjadi dalam 42 kali dari 150 tahun terakhir. Sedangkan badai super ‘hebat’ yang lebih kuat terjadi dalam 6 kali dari 150, atau sekitar setiap 25 tahun. Biasanya badai itu hanya berlangsung beberapa hari.

Berpengaruh terhadap aliran listrik

Selain infrastruktur komunikasi di Bumi, satelit di atmosfer atas juga dapat terpengaruh oleh semburan Matahari. Hal itu disebut dapat menyebabkan gangguan pada sinyal ponsel, TV satelit dan navigasi GPS. Selain itu para ahli juga mengatakan bahwa beberapa tempat mungkin melihat trafo yang meledak jika arus di saluran listrik tinggi.

Berpengaruh terhadap jalur komunikasi

Terjadinya fenomena badai Matahari disebut dapat memancarkan partikel Matahari ke atsomsfer yang menyebabkan dampak besar pada infrastruktur komunikasi.

Semburan dahsyat badai Matahari diperkirakan dapat gangguan komunikasi dan pemadaman komunikasi radio HF (frekuensi tinggi) yang luas selama satu jam atau lebih.

Sempat kacaukan dunia

Selain di tahun ini, fenomena badai Matahari juga pernah terjadi pada 1989. Namun menimbulkan kekacauan di dunia. Badai matahari pada bulan Maret 1989 menyebabkan pemadaman sistem transmisi listrik Hydro-Qu├ębec selama sembilan jam di Kanada.

Pada tahun 1859, terjadi peristiwa Carrington diduga akibat badai matahari terbesar yang pernah tercatat. Saat itu, terjadi pelepasan plasma yang kuat dari Matahari (coronal mass ejections/ CME) disebut telah menggoreng tiang telegraf di seluruh dunia.

Lama setelah itu, pada 2014 NASA sempat memperingatkan akan terjadi Badai Matahari serupa yang dapat memiliki efek bencana pada jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi modern.

Editor : Aron
Sumber : cnnindonesia