Kereta mewah bak istana berjalan seharga Rp 5 triliun. Foto: Dok. Thierry Gaugain

Kereta api menjadi moda transportasi yang terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tak hanya menjadi transportasi bagi traveler, kereta api satu ini dibuat dengan mewah bak istana berjalan.

Dilansir CNN, seorang desainer asal Prancis, Thierry Gaugain, membuat terobosan teranyar untuk industri kereta api. Gaugain berencana membawa pengalaman perjalanan kereta pada konsep terbaru, yakni kereta mewah privat yang dibuat untuk mereka yang berkantong tebal.

Bahkan, kereta ini mirip serial Netflix Snowpiercer, sebuah kereta dengan kelas sosial tertentu. Bedanya, di film tersebut jarak kelas sosial antarpenumpang berusaha dihapuskan, di sini tidak.

Tak sendiri, Gaugain mendesain kereta api yang bernama G Train ini bersama Philippe Strack, seorang desainer kapal pesiar. Salah satu karyanya adalah kapal Venus setinggi 80 meter milik Steve Jobs.

G Train digambarkan sebagai istana mewah di atas rel. Nantinya, kereta ini memiliki panjang 400 meter dengan 14 gerbong berlapis kaca. Kacanya bukan kaca biasa, namun kaca dengan teknologi tinggi yang bisa menjadi buram dan transparan tergantung cuaca.

“Kereta ini dirancang untuk satu pemilik unik. Ini bukan kereta umum, atau kereta penumpang,” kata Gaugain.

“Pemilik yang kami bayangkan adalah seseorang yang menyadari keunikan kereta ini dan mengerti bahwa kami tidak hanya berbicara tentang transportasi. Ini tentang perjalanan, bukan seberapa cepat Anda dari titik A ke titik B,” lanjutnya.

Gaugain menambahkan bahwa sebagai alat transportasi, kereta api saat ini hanya mengutamakan kecepatan agar penumpang sampai ke tujuan. Namun sebaliknya, ia ingin G Train menjadi moda transportasi yang mengutamakan kenyamanan dan kesenangan penumpang di perjalanan, seperti pesawat pribadi misalnya.

“Perjalanan semata-mata bukan hanya tentang kecepatan. Ini tentang meluangkan waktu, karena waktu adalah satu-satunya harta yang kita miliki,” ungkapnya.

Kereta Api dengan Segudang Fasilitas Mewah

Bak istana berjalan di atas rel, G Train akan memiliki segudang fasilitas mewah. Bukan hanya eksterior kereta yang dapat diubah dengan menekan tombol saja, penumpang juga dapat mengubah suasana interior kereta di bagian mana pun mereka berada.

Jika penumpang ingin melihat pemandangan di luar kereta, mereka dapat beralih ke mode transparan. Tetapi jika mereka ingin mendapatkan privasi, penumpang dapat mengubah kaca menjadi buram.

“Kereta ini adalah sebuah panggung. Anda dapat mengubah cahaya, musim, atau kecepatan untuk mengubah hubungan Anda dengan waktu,” ujar Gaugain.

Kereta tersebut nantinya juga mempunyai 18 kamar tamu. Selain itu, pada ruang utama terdapat ruang hiburan serta area untuk tamu istimewa, ruang sosial, serta ruangan yang dirancang khusus untuk resepsi.

Para tamu juga memiliki akses ke taman ‘rahasia’, sementara terdapat sayap kereta yang dapat dilipat yang berfungsi menjadi teras terbuka.

Kereta ini nantinya mampu berjalan dengan kecepatan 160 kilometer per jam, dan akan disesuaikan untuk berjalan di jalur kereta api seluruh Amerika Serikat dan Eropa.

Gaugain juga telah memboyong beberapa ahli seperti pembuat kereta Swiss Stadler, produsen kaca Saint-Gobain, firma teknisi Inggris Eckersley O’Callaghan, dan perusahaan keamanan Marine Guard untuk memastikan bahwa desain kereta apinya itu ‘layak’.

“Kereta api itu sangat rumit, karena tidak ada kereta api yang dapat berjalan di semua rel di seluruh dunia yang mematuhi semua sistem,” kata Gaugain.

Namun, Gaugain belum menemukan pelanggan yang tepat dan mengaku bahwa ia mungkin perlu menemukan seseorang yang ‘gila’ seperti dirinya, untuk membeli kereta buatannya. Kemungkinan pembangunan kereta itu akan menelan biaya 350 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau senilai Rp 5 triliun, serta akan memakan waktu dua tahun pembuatan.

“Mungkin orang yang membeli kereta akan memulai babak baru dalam hidupnya. Karena kami (wisatawan) terus-menerus terburu-buru. Kita perlu waktu untuk memperlambat perjalanan batin agar memahami ke mana kita ingin pergi,” pungkasnya.

Editor : Aron
Sumber : kumparan