Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad.

Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyediakan tes PCR gratis bagi masyarakat Batam, Kepulauan Riau yang termaksud dalam kategori kontak erat para pasien positif COVID-19.

Hal ini ditegaskan oleh Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad sebagai salah satu upaya Pemko Batam menjalankan proses tracing dalam menekan pertumbuhan pasien COVID-19 saat ini.

Namun hal ini diutarakannya hanya dapat dilakukan di Puskesmas yang berada di masing-masing kelurahan, tempat tinggal para pasien positif.

“Kalau merasa pernah kontak dengan pasien positif. Silahkan datang langsung ke Puskesmas terdekat, agar dilakukan test dan tidak dipungut biaya,” ujarnya saat ditemui di gedung Pemko Batam, Kamis (10/6/2021).

Walu demikian, pihaknya juga mengharapkan kesabaran masyarakat dalam menunggu hasil PCR yang telah dilakukan di Puskesmas.

Dimana untuk proses hingga hasil dapat diketahui, diungkapkan nya dapat memakan waktu hingga 3 hari.

“Karena sampel yang akan diteliti tentu saja banyak. Dan kita juga meminta kesabaran masyarakat kita dalam menunggu hasilnya,” terangnya.

Menambahkan hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi juga mengungkapkan dengan adanya program ini, maka pihak Pemko Batam juga mengharapkan kesadaran agar dapat melaporkan diri apabila menjadi kontak erat dari para pasien positif.

Didi juga menghimbau agar para kontak erat tetap menjalankan karantina mandiri apabila telah melakukan PCR Test di Puskesmas.

“Kalau kontak erat cukup dengan isoman saja, setelah melapor ke puskesmas terdekat,” jelasnya.

Mengenai upaya tracing di lingkungan perusahaan, Didi mengatakan pelaksanaan tes antigen menjadi kebijakan perusahaan.

Jika ada upaya tes antigen yang dilakukan, maka tidak dapat dipungkiri bisa dibebankan kepada pegawai perusahaan. “Itu kebijakan perusahaan,” katanya.

Sebelumnya, proses tracing yang selalu digadang-gadang oleh Pemko Batam sempat mendapat keluhan dari masyarakat Kota Batam yang mengaku sebagai kontak erat pasien positif.

Dimana, pihaknya menyatakan bahwa tidak adanya tenaga kesehatan yang melakukan pemanggilan, walau sang pasien positif telah memberikan data teman atau kerabat yang menjadi kontak erat.

Salah satunya datang dari pegawai Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Maria mengaku biaya tes antigen dibebankan kepada para karyawan.

Dan saat dinyatakan positif COVID-19, untuk mendapat pemeriksaan swab test dengan cepat, harus membayar sendiri biaya pemeriksaannya.

“Dari awal antigen dan swab tanggung sendiri, tetapi makanan, minuman, obat, vitamin, buah-buahan dan lain-lain ditanggung pemerintah,” ujar Maria yang kini telah sembuh dari COVID-19 beberapa waktu lalu.

Saat terkonfirmasi positif, Maria mengaku telah melalui tahap wawancara oleh petugas, dan menyebutkan orang-orang yang kontak erat dengannya.

Dari nama-nama yang diberikan, salah satunya yaitu Roma, yang merupakan teman satu gerejanya.

“Saya beritahu Roma, supaya swab antigen, supaya menghindari penyebaran COVID-19,” katanya.

Walau telah mendapat data tersebut, terpisah Roma mengungkapkan bahwa tenaga kesehatan maupun Tim Gugus Tugas Percepatan COVID-19 Batam tidak melakukan komunikasi mengenai hal tersebut.

Bahkan untuk menjaga keamanan keluarganya, Roma mengaku melakukan swab test mandiri di salah satu laboratorium swasta di Batam.

“Karena gak ada nakes yang datang melakukan test ke saya. Dan saya ada anak kecil di rumah. Jadi saya tes mandiri dengan biaya Rp200 ribu sekali test,” ungkap Roma.

Editor : WIL