Foto: Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Bank Indonesia (BI) diam-diam sedang menyiapkan penerbitan rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) untuk menyokong digitalisasi ekonomi dan membendung popularitas cryptocurrency.

Rencana penerbitan uang digital sendiri ini diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika menjawab pertanyaan Founder/Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengenai cryptocurrency dalam diskusi bertajuk CNBC Indonesia Economic Outlook 2021.

“Kami sedang rumuskan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang BI akan terbitkan dan edarkan dengan bank-bank dan fintech secara wholesale dan ritel,” ujar Perry Warjiyo, seperti dikutip Jumat (26/2/2021).

“Seluruh alat pembayaran menggunakan koin, kertas dan digital menggunakan Rupiah dan wewenang di BI. Digital currency wewenang di BI, kami jelaskan bitcoin bukan alat pembayaran sah,” ujarnya.

Informasi saja, CBDC adalah uang digital yang diterbitkan dan peredarannya dikontrol oleh bank sentral. Uang digital ini digunakan sebagai alat pembayaran yang sah untuk menggantikan uang kartal.

Konsep ini berbeda dengan cryptocurrency seperti Bitcoin di mana uang internet ini dihasilkan dari proses penambangan file komputer. Bitcoin bersifat desentralisasi, tidak butuh bank sentral dan bank dalam transaksi karena transaksinya berlangsung secara peer-to-peer dari pengirim ke penerima.

Pada bulan Maret 2020, Bank for International Settlement (BIS) dalam sebuah laporan menyebutkan dalam pembuatan CBDC harus mengedepankan kebutuhan nasabah.

Dalam laporan tersebut, BIS menyebutkan ada 6 kebutuhan utama nasabah, yakni privasi, mudah digunakan, aman seperti uang tunai, memiliki akses universal, pembayaran luar negeri (cross-border), serta kegunaan peer-to-peer.

Berdasarkan kebutuhan utama tersebut, ada 3 model CBDC yang disajikan yakni:

  1. Indirect CBDC dimana tagihan (claim) dilakukan ke perantara (bank komersial), sementara bank sentral hanya melakukan pembayaran ke bank komersial
  2. Direct CBDC dimana tagihan dilakukan langsung ke bank sentral
  3. Hybrid CBDC dimana tagihan dilakukan ke bank sentral, tetapi bank komersial yang melakukan pembayaran

Menurut Moody’s dalam model indirect CBDC tidak ada perubahan besar dari peran bank sentral. Model indirect CBCD hampir sama dengan sistem finansial saat ini. Transaksi finansial dilakukan melalui perantara (dalam hal ini bank komersial).

Bank sentral di sini hanya merilis CBDC dan disalurkan ke bank komersial yang perannya tidak banyak berubah dari saat ini. Bank komersial tetap melakukan peran Mengetahui Nasabah (Know Your Customer), verifikasi, hingga pembayaran transaksi pengguna CBDC.

Mengingat model ini hampir sama dengan sistem finansial saat ini, maka ancaman yang diberikan ke bank komersial menjadi paling kecil. Pada praktiknya indirect CBDC tidak memberikan banyak perubahan bagi pengguna, sehingga dianggap tidak akan menarik.

Sementara itu model direct CBDC akan membuat perubahan besar di sistem finansial, sebab individu, merchant, hingga korporasi dapat memiliki rekening langsung di bank sentral, sehingga semua transaksi akan melalui bank sentral. Hal tersebut tentunya mengubah peran bank sentral saat ini yang hanya menangani transaksi antar bank komersial.

Bank sentral akan bertanggung jawab memproses hingga memvalidasi transaksi dengan volume jauh lebih besar. Untuk dapat menerapkan direct CBDC bank sentral perlu menggunakan teknologi seperti centralised ledger atau distributed ledger technology(DLT).

Bank sentral juga akan mengambil alih peran “Know Your Customer” untuk mencegah dan memberantas pencucian uang serta pendanaan terorisme, dimana hal tersebut yang sebelumnya dilakukan oleh bank komersial.

Menurut Moody’s, model direct CBDC akan menguntungkan bagi individu maupun pelaku usaha, sebab akan mengurangi risiko maupun biaya transaksi. Tetapi di sisi lain, jika jumlah saldo bisa ditempatkan di bank sentral tidak terbatas, maka bank komersial akan menghadapi risiko kekurangan likuiditas akibat menurunnya dana pihak ketiga (DPK).

Terakhir, model Hybrid CBDC, yang ini menggabungkan antara direct dan indirect CBDC. Model ini diterapkan oleh PBoC dalam menerbitkan e-CNY.

Tagihan pemilik CBDC langsung ditujukan ke bank sentral artinya nasabah memiliki rekening langsung di bank sentral sama seperti direct CBDC. Sementara “Know Your Customer” dan semua proses pembayaran dilakukan oleh bank komersial, seperti indirect CBDC.

Menurut Moody’s model Hybird menimbulkan disrupsi lebih rendah terhadap sistem finansial saat ini ketimbang direct CBDC. Bank komersial berperan sebagai perantara, menjalankan sistem pembayaran atas nama bank sentral.

Bank sentral akan selalu memperoleh data transaksi atau pun secara real time, sehingga saat terjadi kegagalan akan diteruskan ke pihak ketiga sehingga integritas pembayaran dapat dipertahankan.

Menurut Moody’s, model Hybrid CBDC ini yang paling mungkin diterapkan saat ini. Meski demikian, model Hybrid tetap menimbulkan disrupsi bagi industri perbankan, sebab akan terjadi penurunan DPK sama seperti direct CBDC.

Editor : Aron
Sumber : kumparan