Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020-2025 setelah terpilih secara aklamasi dalam Kongres V partai tersebut. (Dok. Partai Demokrat)

Politikus senior Partai Demokrat, Yus Sudarso, mengungkap empat faksi dalam partai tersebut yang sepakat mendorong Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko ambil alih posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Demokrat.

“Jadi tanpa ada rekayasa, kawan-kawan [empat faksi] ini bertemu dalam satu titik pemikiran, bagaimana Demokrat ke depan,” kata Yus saat ditemui usai menggelar konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (2/2).

Yus membeberkan empat faksi tersebut masing-masing adalah para founding fathers alias para pendiri Partai Demokrat.

Lalu ketiga, faksi barisan Ketua Umum ketiga Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Terakhir, faksi mantan Sekjen Demokrat yang juga pernah menjadi ketua DPR Marzuki Alie..

Menurut Yus, empat faksi tersebut menilai Moeldoko merupakan sosok yang tepat menggantikan AHY di pucuk pimpinan partai. Sebagai gantinya kata dia, AHY diproyeksikan dan dinilai lebih matang untuk menjadi pemimpin Indonesia 10 tahun mendatang.

Sedangkan saat ini, lanjut Yus, putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu lebih diprioritaskan menjadi menteri bila Demokrat berhasil memenangkan Pilpres 2024 mendatang.

“Kawan melihat figur yang pas untuk di-create adalah Moeldoko. Akan tapi kami sayang SBY [Susilo Bambang Yudhoyono], sayang AHY, kalau Demokrat punya presiden pastinya AHY skala prioritas menjadi menteri kami dan 10 tahun ke depan beliau akan lebih matang untuk menjadi pemimpin bangsa ini,” kata Yus.

Sebelumnya, nama Moeldoko santer dituding sebagai dalang di balik gonjang ganjing pengambilalihan secara paksa posisi AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Manuver itu disebutkan terkait erat dengan kepentingan Pemilu 2024.

DPP Demokrat menyatakan telah menerima informasi dari para pengurus pimpinan partai di pusat dan daerah yang sempat bertemu dengan Moeldoko. Mereka pun menilau Moeldoko sebagai penyalahgunaan wewenang karena mencatut nama Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

AHY pun diketahui telah melayangkan surat ke Jokowi atas dugaan tersebut. Surat dilayangkan usai pihaknya juga menerima informasi ambil alih posisinya disebut telah mendapat dukungan sejumlah pejabat penting di bawah Jokowi.

Pada Senin malam, Moeldoko mengakui bahwa dirinya memang sempat bertemu sejumlah kader dan eks petingfi partai di kediamannya. Ia pun meminta AHY tidak baper sebagai pemimpin, dan tak mengaitkan gejolak politik yang terjadi dengan istana serta Jokowi.

Politikus Partai Demokrat, Rachland Nashidik kemudian menuding Moeldoko telah berbohong soal lokasi pertemuan tersebut. Lewat cuitan di akun pribadinya di Twitter, Rachland menyebut pertemuan Moeldoko dan kader Demokrat bukan dilakukan di rumah, melainkan di sebuah hotel di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko berpose usai wawancara khusus dengan ANTARA di Jakarta, Senin (29/6/2020). Moeldoko mengungkapkan Presiden menegur keras menteri-menterinya agar mereka dapat lebih lebih sigap, cepat dan tepat dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras.Kepala Staf Presiden Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Respons Pengurus atas Konferensi Pers Eks Kader Demokrat

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menegaskan salah satu faktor besar yang membuat parpolnya sukses adalah karena faktor Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono saat menjabat sebagai Presiden keenam RI selama dua periode, kurun waktu 2004-2014.

Hal itu ia sampaikan untuk merespons berkumpulnya para eks kader Partai Demokrat yang mengatasnamakan Forum Pendiri dan Senior Partai Demokrat yang menggelar konferensi pers pada Selasa (2/2) siang.

“Ini tolong senior-senior tolong lah. Jangan terjebak masa lalu. Dulu Demokrat bisa sukses salah satu faktor besarnya adalah faktor Pak SBY, tahun 2004-2014,” kata Herzaky dalam program CNN Indonesia TV, Selasa (2/2) malam.

Herzaky menegaskan para eks kader itu bukan siapa-siapa lagi bagi Demokrat. Ia turut mempertanyakan keberadaan para eks kader yang sudah tak terlihat lagi setelah SBY rampung menjalani tugas sebagai presiden RI.

“Setelah Pak SBY enggak jadi presiden, ke mana mereka? Mereka bukan siapa-siapa,” kata Herzaky.

“Ada kader tua enggak terpilih di DPR RI. Enggak punya posisi apalagi. Ada yang jadi relawan politik di luar kami, tapi masih sibuk-sibuk ngurusin Demokrat ya. Kayak paling berjasa dan cinta Demokrat, kami ketawa aja,” tambah dia.

Herzaky menyatakan mereka bukan lagi pemilik suara bagi Partai. Ia juga mengklaim pengurus daerah Partai Demokrat di seluruh Indonesia solid untuk mendukung AHY.

“Bahkan ada DPC dan DPD menyerahkan dukungan itu kepada Ketum AHY langsung ke Jakarta. Belum 1 tahun udah memukau kader. Kenapa? Karena kerja kami nyata,” kata dia.

Sebelumnya, para eks kader dan politikus senior Partai Demokrat berkumpul untuk menggelar konferensi pers merespons pernyataan AHY terkait isu kudeta kepemimpinan Demokrat.

Pada pertemuan itu, Mantan kader Partai Demokrat HM Darmizal menyebut Moeldoko sosok yang baik untuk memimpin Partai Demokrat saat ini. Lalu, Politikus senior Partai Demokrat, Yus Sudarso membeberkan bahwa ada empat tokoh senior Demorkat diklaim mendukung Moeldoko agar mengambil alih kursi ketua umum Demokrat.

Mereka adalah Ketua Umum Partai Demokrat 2001-2005, Subur Budhisantoso; Ketua Umum Partai Demokrat 2005-2010, Hadi Utomo; Ketua Umum DPP Partai Demokrat 2010-2013, Anas Urbaningrum; dan mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Marzuki Alie.

Editor : Aron
Sumber : cnnindonesia