ilustrasi: indonesiaexpat.id

Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Sukarnoputri mengenang kedekatan ayahnya yang juga Presiden ke-1 RI Sukarno dengan sejumlah pendiri Nadhlatul Ulama (NU) seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Hal ini disampaikan Mega, sapaannya, dalam Kegiatan Peringatan Harlah NU ke-95, Minggu (31/1).

“Saya sangat teringat dan saya yakin, sejarah juga mengingat kedekatan Bung Karno presiden pertama RI dengan Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, serta banyak para kiai serta penggerak NU lainnya,” ujar Mega.

Ia juga teringat Sukarno diberi gelar oleh NU sebagai waliyul amri addharuri bi as syaukah, gelar yang merupakan dukungan besar warga Nahdliyin pada kepemimpinan Sukarno yang disahkan dalam Muktamar NU di Surabaya pada 1954.

Mega menyatakan, kedekatan Sukarno dengan warga Nahdliyin akan diteruskan dalam tindakan. Ia juga telah mengamanatkan kedekatan itu kepada seluruh kaum nasionalis juga para kader dan simpatisan PDIP.

“”Kedekatan Bung Karno dengan Kiai dan warga NU akan saya teruskan dalam tindakan,” kata Mega.

Sementara itu Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan kecintaan Mega pada NU sama seperti kecintaan Sukarno pada NU dulu.

Hasto menyatakan hal itu tercermin dari sikap politik Mega saat menjadi presiden pada 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004.

Saat itu, Mega sempat dihubungi oleh Presiden AS ke-43 George Walker Bush untuk mendukung sikap AS menyerang Irak.

“Ketika Irak diserang, George Bush sampai telepon empat kali ke Ibu Mega agar Indonesia sebagai negara Muslim terbesar mendukung aksi tersebut (AS menyerang Irak),” tutur Hasto.

Menurutnya, Megawati langsung menolak permintaan AS tersebut.

“Bu Megawati katakan ‘no’, Anda tidak tahu bagaimana Islam di Timur Tengah. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Itulah kader PDIP, otomatis kami menjadi dekat dengan NU,” terang Hasto.

Ia menyatakan bahwa Mega sering ‘dilobi’ oleh beberapa pihak dalam memerangi terorisme. Namun, Mega menegaskan ketidakadilan di Palestina menjadi akar persoalan terorisme di dunia.

“Akar persoalan terorisme adalah ketidakadilan masalah Palestina. Kami dukung kemerdekaan Palestina sepenuhnya,” ucap Hasto.

Editor : Aron
Sumber : cnnindonesia