Ilustrasi kondisi anak rabun senja. Foto: Shutterstock
Apakah anak Anda kerap mengeluhkan penglihatan matanya yang kurang maksimal di kegelapan? Bisa jadi hal tersebut merupakan gejala rabun senja pada anak.
Rabun senja merupakan salah satu kondisi gangguan penglihatan mata yang biasa disebut dengan nyctalopia. Kondisi ini membuat penderitanya mengalami penglihatan yang buruk di malam hari atau di tempat dengan minim cahaya.
Rupanya, kondisi rabun senja tak hanya terjadi pada orang dewasa lho, Moms. Anak-anak yang memiliki riwayat gangguan pada matanya juga berisiko mengalami rabun senja. Tak hanya itu, rabun senja juga bisa muncul sebagai gejala dari penyakit tertentu.
Dikutip dari Modern Mom, rabun senja pada anak bisa disebabkan oleh sel-sel retinal di mata yang tidak berfungsi dengan baik. Mata seseorang yang menderita rabun senja tidak dapat menyesuaikan diri dengan kegelapan atau pencahayaan redup, sehingga pada dasarnya mereka buta dalam segala hal kecuali cahaya penuh.
Rabun senja yang terjadi pada anak dapat menimbulkan rasa ketakutan yang sangat kuat dan terus-menerus terhadap kegelapan, kesulitan berjalan di ruangan yang remang-remang tanpa tersandung atau menabrak benda, dan kesulitan tidur sepanjang malam. Biasanya, anak yang mengalami rabun senja juga cenderung berimajinasi tentang hal-hal buruk karena ketakutannya.
Kenali Kondisi Rabun Senja pada Anak (2)
Ilustrasi anak pakai kacamata. Foto: Shutter Stock

Penyebab Rabun Senja pada Anak

Sebenarnya, semua jenis rabun senja disebabkan oleh sel-sel retinal di mata yang tidak bekerja dengan baik. Namun, sel-sel ini dapat mengalami kerusakan karena sejumlah alasan. Pada anak-anak, penyebab paling umum adalah miopia, atau rabun dekat.
Kemudian keratomalacia, yang merupakan kekurangan nutrisi Vitamin A. Sebab, vitamin A juga disebut retinol yang berperan dalam mengubah impuls saraf menjadi gambar di retina. Apalagi, retina merupakan daerah yang sensitif terhadap cahaya di belakang mata seseorang.
Dikutip dari Healthline, anak yang memiliki kondisi insufisiensi pankreas mengalami kesulitan dalam menyerap lemak dan berisiko lebih besar mengalami defisiensi vitamin A, karena vitamin A larut dalam lemak. Ini menempatkan mereka pada risiko lebih besar untuk mengalami rabun senja.
Selain itu, tubuh anak yang memiliki kadar gula darah tinggi juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit mata dan rabun senja bisa menjadi salah satu gejalanya. Namun, dalam beberapa kasus, terdapat anak-anak yang mengalami rabun senja karena kelainan bawaan genetik yang dikenal sebagai retinitis pigmentosa.
Jika anak Anda didiagnosis mengalami rabun senja, perawatan yang bisa dilakukan tetap bergantung pada penyebab utamanya. Mungkin dokter akan memberikan resep kacamata jika si kecil mengalami miopia. Sementara anak yang menderita retinitis pigmentosa memerlukan terapi tertentu untuk memperbaiki kondisi matanya, misalnya dengan mengkonsumsi lebih banyak makanan dengan kandungan vitamin A.
Editor : Parna
Sumber : kumparan