Ilustrasi. Anosmia yang bertahan lama setelah sembuh membuat sejumlah penyintas Covid-19 harus lebih kreatif dalam meracik makanan demi tingkatkan nafsu makan. (Unsplash/Pixabay)

Anosmia bisa bertahan lama pada beberapa penyintas infeksi virus corona (Covid-19). Kondisi itu membuat mereka terpaksa harus lebih kreatif meracik makanan demi meningkatkan nafsu makan.

Sarah Yeats (31), misalnya, seorang warga Florida, Amerika Serikat. Setelah tertular dari Covid-19 pada Agustus 2020 lalu, Yeats tak lagi memiliki indera penciuman yang berfungsi dengan baik. Kemampuannya dalam mencecap rasa makanan pun kian berkurang.

Untuk mengatasi nafsu makan, dia mencoba meraih berbagai bahan masakan yang menimbulkan aroma menyengat. Dia siram ayam ke dalam perasan lemon yang banyak, memasukkan berbagai rempah-rempah ke dalam sup dan salad, dan mencoba cara lain yang lebih berani demi membuat agenda makan jadi menyenangkan.

“Saya makan pasta kacang hitam dengan almond dan potongan kunyit. Saya jarang sekali memakan itu [kunyit], menjijikan,” ujar Yeats, melansir CNN. Kunyit jadi salah satu rempah-rempah yang sering digunakannya demi membuat agenda makan jadi lebih menggairahkan.

Anosmia sendiri merupakan kondisi saat fungsi indera penciuman menurun atau bahkan menghilang. Anosmia juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mencecap rasa. Indera penciuman dan pencecap rasa saling berkaitan satu sama lain.

Anosmia juga menjadi salah satu gejala spesifik yang khas dari Covid-19. “Tampaknya anosmia menjadi indikator paling spesifik dari Covid-19, khususnya sebagai tanda awal,” ujar ahli kesehatan, Leana Wen. Bahkan, pasien juga kerap melaporkan anosmia tanpa adanya gangguan hidung tersumbat.

Anosmia or smell blindness, loss of the ability to smell, one of the possible symptoms of covid-19, infectious disease caused by corona virus. Woman Trying to Sense Smell of a LemonIlustrasi. Pada beberapa penyintas Covid-19, anosmia masih terus berlangsung selama berbulan-bulan setelah dinyatakan sembuh. (iStockphoto/microgen)

Sementara kebanyakan orang kembali mendapatkan indera penciuman dan perasanya berfungsi kembali setelah sembuh, beberapa orang justru masih mengalaminya hingga berbulan-bulan, termasuk Yeats.

“Orang-orang masih perlu makan. Tentu saja, karena anosmia, mereka jadi harus memodifikasi makanan mereka,” kata Lean.

Hal yang hampir sama juga dirasakan oleh Althe Mullarkey (53). Sebelum dinyatakan positif Covid-19 dan kehilangan fungsi indera penciumannya, Mullarkey adalah seorang penggila makanan. Keju dan telur jadi favoritnya.

Tapi, setelah sembuh dari Covid-19, anosmia yang dialami Mullarkey berlanjut. Dia tak lagi menyukai rasa telur dan keju favoritnya.

Alih-alih keju dan telur, belakangan Mullarkey mengonsumsi selada dan potongan daging babi untuk sarapan. Sementara untuk makan malam, menu hummus yang ditaburi perasan lemon dan sepotong naan panggang yang diolesi minyak pedas jadi menu utamanya.

Ada penjelasan ilmiah di balik ketidakmampuan seseorang yang mengalami anosmia dalam mencecap rasa. Hal itu disebut tak berhubungan dengan menurunnya fungsi indera pencecap rasa.

“Beberapa rasa makanan seperti pedas, adalah hal-hal yang kita alami lewat keberadaan sensor panas dan dingin di mulut. Anda bisa mendapatkan rasa asam, panas, bahkan rasa asin, tapi rasa-rasa itu bukan berasal dari bahan-bahan seperti ketumbar dan bahan lainnya yang biasa digunakan memasak,” jelas ahli otolaringologi, Marta Becker.

Becker mengatakan, rasa pada makanan tertentu tak ditimbulkan oleh kemampuan mulut saat mengunyahnya, melainkan oleh hidung.

“Kami tidak berpikir bahwa Covid-19 menyebabkan hilangnya kemampuan mencecap rasa. Tapi, itu adalah hilangnya fungsi penciuman yang memengaruhi cara seseorang menemukan rasa,” jelas Becker.

Hal itu juga mungkin menjelaskan mengapa tekstur, warna, dan ritual seputar masak menjadi lebih penting saat ini bagi para penyintas Covid-19. Alih-alih menitikberatkan pada rasa, mereka lebih fokus pada faktor-faktor lain seperti penampilan makanan itu sendiri.

“Tekstur menjadi jauh lebih penting bagi saya,” kata Yeats. Dia mengonsumsi salmon beberapa kali sepekan karena teksturnya yang lebih kenyal dan enak di mulut daripada ikan jenis lain yang hanya terasa ‘kering’.

“Saya ingin memastikan ada warna hijau dalam segala hal. Makanan berwarna putih dan abu-abu sangat tidak menarik sekarang,” kata Yeats.

Editor : Aron
Sumber : cnnindonesia