Mantan Sekretaris MA Nurhadi yang kini dipolisikan gara-gara memukul petugas rutan KPK. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Berada di balik jeruji malah membuat Nurhadi kembali berurusan dengan hukum. Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) itu dilaporkan petugas rumah tahanan (rutan) KPK terkait dugaan penganiayaan.

Nurhadi sebenarnya saat ini berstatus sebagai terdakwa perkara suap yang diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta. Namun dia ditahan di rutan KPK selama menjalani persidangan itu..

Tiba-tiba pada Kamis, 28 Januari, Nurhadi dikabarkan memukul seorang petugas rutan KPK. Ada apa?

Plt Juru Bicara KPK Ali Firki mengatakan kejadian bermula saat petugas Rutan KPK melakukan sosialisasi kepada para tahanan di Rutan KPK Kavling C1. Sosialisasi itu terkait rencana renovasi salah satu kamar mandi yang di dalamnya terdapat jalur ventilasi saluran udara gedung.

“Karena akan berpotensi membahayakan kesehatan dan keamanan penghuni rutan. Sehingga untuk sementara waktu dilakukan penutupan kamar mandi tersebut,” kata Ali Fikri kepada wartawan, Jumat (29/1/2021).

Ali menyebut, saat rencana tersebut disampaikan kepada para penghuni sel, Nurhadi keberatan. Menurut Ali, Nurhadi menyampaikan keberatannya dengan intonasi suara tinggi.

“Sehingga timbul kericuhan yang berujung timbulnya dugaan tindakan kekerasan fisik oleh yang bersangkutan kepada salah satu petugas rutan,” ucap Ali.

Pemukulan terjadi pada Kamis (28/1) sekitar pukul 16.30 WIB. Nurhadi sendiri ditahan di Rutan Ground A yang berada di Gedung KPK Kavling C-1, Jakarta Selatan.

Simak juga video ‘Saksi Ungkap Aliran Uang ke Rekening Menantu Nurhadi’:

Buntutnya Nurhadi pun dilaporkan ke polisi. Seperti apa proses selanjutnya?

1. Pemukulan Disaksikan Petugas KPK Lainnya

Pemukulan Nurhadi terhadap seorang petugas Rutan KPK juga disaksikan oleh petugas lainnya. Nurhadi akan diperiksa KPK terkait peristiwa tersebut.

“Pihak rutan KPK akan melakukan tindakan pemeriksaan sesuai mekanisme yang berlaku terhadap tahanan dimaksud,” kata Ali.

2. Petugas Rutan itu Laporkan Nurhadi

Ali menyebut petugas rutan KPK itu melapor ke Polsek Setiabudi. Pelaporan terhadap Nurhadi dilakukan pada Jumat, 29 Januari 2021, sekitar pukul 18.30 WIB. Pelaporan didampingi oleh pihak Biro Hukum KPK. Petugas rutan pun telah dilakukan pemeriksaan oleh pihak dokter rumah sakit.

“Petugas Rutan KPK, sebagai pihak korban, telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Setiabudi,” kata Ali kepada wartawan, Sabtu (30/1/2021).

“Tindakan kekerasan apa pun bentuknya, terlebih kepada aparat yang sedang bertugas, adalah tindakan yang tidak dibenarkan menurut hukum. Berikutnya kami tentu menyerahkan sepenuhnya proses ini kepada pihak yang berwenang,” tambahnya.

3. Polisi Proses Kasus Penganiayaan

Polisi memproses laporan petugas rutan KPK yang dipukul Nurhadi. Polisi sudah melakukan pemeriksaan saksi dan tengah menunggu hasil visum.

“Kronologisnya pada saat itu lagi sosialisasi untuk renovasi ruangan terus kemudian terlapor (Nurhadi) nggak mau karena repot harus mindah-mindahin barang, nggak terima akhirnya melakukan pemukulan terhadap korban,” kata Kapolsek Setiabudi AKBP Yogen Heroes Baruno, saat dihubungi, Minggu (31/1/2021).

“Jadi sudah kita lakukan pemeriksaan ke tiga orang, saksi korban dan ditambah 2 saksi yang mengetahui kejadian. Kemudian kita sudah mintakan hasil visumnya, kita tinggal nunggu hasil visumnya nanti seperti apa,” imbuh Yogen.

Yogen mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan penyidik terhadap saksi dan menunggu hasil visum korban. Hal itu nantinya yang akan menjadi pertimbangan untuk menaikkan kasus ke taraf penyidikan.

“Kemudian kita naikkan ke taraf penyidikan dan kalau nanti memang kita memeriksa terlapor ada dua opsi, bisa kita yang ke sana penyidik meriksa di sana atau terlapor datang ke sini didampingi KPK. Tapi kemungkinan opsi pertama yang kita ambil, kita yang ke sana periksa di sana,” ucap Yogen.

“Iya, belum (penyidikan). Kan baru pemeriksaan saksi sama nunggu hasil visumnya,” tambahnya.

4. Petugas Rutan KPK Dipukul di Area Bibir

Polisi menyebut petugas Rutan KPK mengalami pemukulan di bagian atas bibir oleh Nurhadi. Saat ini polisi tengah memproses dugaan pemukulan itu.

“Jadi memang ada pemukulan satu kali di atas bibir,” ucap Yogen.

“Kronologisnya pada saat itu lagi sosialisasi untuk renovasi ruangan terus kemudian terlapor (Nurhadi) nggak mau karena repot harus mindah-mindahin barang, nggak terima akhirnya melakukan pemukulan terhadap korban,” imbuh Yogen.

5. Nurhadi Segera Diperiksa

Polisi segera memanggil Nurhadi untuk menjalani pemeriksaan. Mengenai teknis pemeriksaan, polisi akan berkoordinasi dengan KPK.

“Kalau nanti memang kita memeriksa terlapor ada dua opsi, bisa kita yang ke sana penyidik meriksa di sana atau terlapor datang ke sini didampingi KPK. Tapi kemungkinan opsi pertama yang kita ambil, kita yang ke sana periksa di sana,” kata Yogen.

Yogen mengatakan rencananya bakal memeriksa Nurhadi di Rutan KPK. Pemeriksaan itu, sebutnya, rencananya juga akan dilakukan minggu depan.

“Kita belum tahu, kita belum pastikan karena dari penyidik melaporkan dulu hasil pemeriksaan saksi, kita naikkan penyidikan baru kita jadwalkan pemeriksaan,” ujar Yogen.

“Yang pasti dalam minggu depan, kita percepat,” imbuhnya.

6. Pengacara Duga Ada Provokasi

Di sisi lain pengacara Nurhadi, Maqdir Ismail, mengaku akan mencari informasi terlebih dahulu terkait kronologi kasus pemukulan tersebut. Namun dia menduga adanya provokasi.

“Saya belum bisa berkomunikasi dengan Pak Nurhadi sehingga saya tidak tahu kejadian versinya Pak Nurhadi. Sekiranya benar bahwa kejadian ini karena ada pembicaraan dan ada intonasi tinggi dari Pak Nurhadi, tentu ini tidak berdiri sendiri,” ungkap Maqdir saat dihubungi, Minggu (31/1/2021).

Maqdir mengaku akan meminta petugas KPK memfasilitasinya agar dapat berkomunikasi dengan terdakwa kasus korupsi itu besok melalui Zoom terkait kasus pemukulan tersebut.

Maqdir meminta KPK menjelaskan cara petugas rutan menyampaikan ‘sosialisasi’ hingga terjadi insiden pemukulan tersebut. Ia mengaku khawatir peristiwa pemukulan itu dapat berpengaruh terhadap pembuktian kasus korupsi yang sedang berlangsung di Pengadilan Tipikor.

“Mestinya dijelaskan cara pihak petugas Rutan menyampaikan ‘sosialisasi’, sehingga terjadi ancaman ‘kekerasan fisik’, seperti diberitakan. Justru saya khawatir, Pak Nurhadi memang secara sengaja diprovokasi oleh petugas Rutan agar timbul ‘pertengkaran’,” kata Maqdir.

“Dengan gangguan ini, Pak Nurhadi akan terganggu dalam menghadapi perkaranya sebagaimana didakwakan oleh penuntut umum KPK. Satu hal yang harus diingat, posisi tahanan itu selalu berada di bawah kendali petugas. Tidak tertutup kemungkinan bahwa petugas itu yang lebih dahulu melakukan gerakan dan menunjukkan sikap menantang dan hendak memukul,” sambungnya.

Ia menduga pelaporan petugas KPK ke kepolisian terkait insiden pemukulan itu berlebihan. Sebab, ia menduga bisa saja insiden tersebut untuk mengalihkan isu terkait perkara pokok yang dihadapi Nurhadi.

“Laporan dan pendampingan oleh Biro Hukum KPK, seolah-olah pertengkaran ini adalah perkara besar, tentu ada maksudnya dan tidak berdiri sendiri. Begitu juga halnya, dengan keterangan pers yang dilakukan oleh Plt Juru Bicara KPK secara luas adalah satu upaya untuk merusak harkat dan martabat Pak Nurhadi. Seperti tidak ada berita yang penting selain ‘perselisihan’ Pak Nurhadi dan petugas KPK,” ungkapnya.

“Meskipun saya tidak boleh berprasangka buruk terhadap Plt Jubir KPK, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa berita ini dibuat secara masif adalah untuk mengalihkan perhatian terhadap perkara pokok yang dihadapi ini dengan pembuktian yang sangat lemah dan cenderung mengada-ada,” sambungnya.

Editor : Aron
Sumber : detik